FOKUS

Kisruh Crimea, Seberapa Besar Efeknya Terhadap Ekonomi Dunia

Minyak Rusia melewati Ukraina menuju Eropa.
Senin, 17 Maret 2014
Oleh : Siti Nuraisyah Dewi, Renne R.A Kawilarang, Mohammad Adam
Seorang bocah berdiri di dekat tentara Rusia yang berjaga di dekat gerbang pasukan militer Ukraina, 4 Maret 2014

VIVAnews - Mayoritas penduduk di Crimea memilih bergabung dengan Rusia. Itulah hasil refrendum di kawasan semenanjung ini, yang digelar Minggu kemarin. Rusia tentu saja senang. Tapi hasil itu ditentang keras sebagian rakyat Ukraina. Pemerintah Ukraina berikrar mempertahankan kawasan ini dan menyebutkan refrendum itu cuma muslihat Rusia belaka.  

Bahkan sejumlah negara di Eropa Barat, Amerika Serikat dan sejumlah negara lain menolak hasil itu. Washington siap menjatuhkan sanksi kepada Moskow atas krisis di Ukraina ini. Seberapa besar sesunguhnya dampak kisruh politik di sana terhadap keseimbangan politik dan ekonomi dunia. 

Meski cuma negara kecil pecahan dari Uni Soviet, Eropa Timur, konflik di Ukraina yang belum juga mereda ini ternyata memicu melonjaknya harga minyak dunia. Analis Riset Komoditas JP Morgan, dikutip dari The News, mencatat bahwa meskipun bukan merupakan produsen minyak utama maupun konsumen minyak, Ukraina adalah negara transit penting bagi jalur distribusi ekspor minyak Rusia.

Dan lebih dari 70 persen pasokan gas dan minyak bumi Rusia mengalir ke Eropa melalui Ukraina. Dengan kata lain, Eropa merupakan pembeli terbesar minyak Rusia dengan angka impor lebih dari 90 persen.

Pernyataan serupa juga dikemukakan Desmond Chua, analis di CMC Markets Singapura. Dia memaparkan bahwa ketegangan yang meningkat di Ukraina memberikan dasar yang kuat untuk melonjaknya harga minyak. "Menimbang bahwa Ukraina adalah bagian dari rantai pasokan untuk Brent, kami melihat ini sebagai premi risiko terpendam yang bisa mengakibatkan lonjakan harga," kata Chua.

Myrto Sokou, analis peneliti senior di firma Sucden di London, mengatakan bahwa ketidakpastian yang berlangsung di Ukraina menyebabkan momentum bullish lebih lanjut ke pasar minyak di tengah kekhawatiran tentang masalah produksi minyak. "Rusia adalah negara produsen minyak terbesar di dunia, sehingga setiap ketidakpastian politik bisa menimbulkan keprihatinan serius tentang isu-isu pasokan minyak di seluruh dunia," lanjutnya.

Kisruh di Crimea ini mulai memuncak Senin 3 Maret 2014. Nyaris pecah perang terbuka antara Ukraina dengan tetangga besarnya, Rusia. Massa menggulingkan kekuasaan Presiden Viktor Yanukovych - yang kemudian lolos ke Rusia. Ternyata Rusia marah besar atas tergulingnya Yanukovych, sekutu dekat Presiden Vladimir Putin itu. Rusia kemudian mengirim pasukan ke Semenanjung Crimea, wilayah otonomi khusus di Ukraina demi, "Melindungi kepentingan dan rakyat Rusia di sana," ujar Putin kepada parlemen.

Hari itu juga harga minyak dunia melonjak mencapai tingkat tertinggi pada tahun ini. Menurut para analis, krisis Ukraina memicu kekhawatiran tentang pasokan energi global. Harga minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman April meningkat US$2,77 ke level US$111,84 per barel di London. Sementara itu, di New York, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk April, naik US$1,94 menjadi US$104,53 per barel.

Sedangkan hari ini, terpengaruh hasil referendum yang mayoritas memilih wilayah mereka bergabung ke Rusia, harga minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman April naik 10 sen ke level US$108,31 per barel. Di New York, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk April, naik 24 sen menjadi US$99,13 per barel.

Kontribusi ekonomi Ukraina terhadap dunia 

Meski Ukraina hanya menyumbangkan persentase kecil terhadap gross domestic product (GDP) dunia, namun nyatanya selama beberapa minggu ini krisis Ukraina menjadi sentimen negatif yang membebani pasar keuangan global, yang berimbas pada bursa-bursa di kawasan Asia. Tapi banyak analis menyebutkan bahwa dampak kisruh politik itu kecil tehadap ekonomi dunia. 

"Ukraina hanya berkontribusi kecil pada GDP dunia, kira-kira seperempat dari 1 persen GDP dunia. Sehingga tidak mungkin akan membuat sesuatu yang "wow" di pasar global," ujar Bill Stone, Chief Investment Strategist PNC Asset Management Group

Pada Selasa 4 Maret lalu, harga saham-saham di Bursa Efek New York, memang merosot tajam pada sesi penutupan. Aksi provokatif Rusia yang menduduki Crimea, wilayah otonomi Ukrania, secara militer, memicu investor melakukan aksi jual. Dikutip dari CNBC, indeks S&P 500 dan indeks Dow Jones Industrial Average turun signifikan menjadi hari terburuk dalam sebulan terakhir.

Beruntung pada hari berikutnya, 5 Maret 2014, setelah keluarnya pernyataan dari Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang menegaskan bahwa negaranya tidak akan berperang dengan rakyat Ukraina, saham-saham di Bursa Efek New York, Amerika Serikat, kembali melonjak.

Indeks Dow Jones Industrial Average dan indeks S & P 500 memantul kembali setelah merosot tajam ke level terburuk dalam sebulan terakhir.
"Investor tampaknya telah dilatih menghadapi krisis geopolitik dalam beberapa tahun terakhir, seperti krisis Mesir dan  Suriah. Sehingga pasar saham bisa dengan cepat segera pulih," ujar Jeffrey Kleintop, Chief Market Strategist, LPL Financial.

Dan pada hari ini 17 Maret 2014,  karena kekhawatiran yang meningkat di kalangan investor terhadap situasi Ukraina setelah hasil referendum menunjukkan hasil bahwa Crimea memilih untuk bergabung dengan Rusia, pasar saham Asia mengawali transaksi pekan ini dengan kerugian.

Indeks Nikkei di bursa Tokyo pagi tadi tergelincir 0,2 persen. Indeks acuan pasar saham Jepang ini kini berada pada level perdagangan 14.304,21. Saham Jepang merosot ke level terendahnya selama sebulan terakhir dalam dua sesi perdagangan berturut-turut. Sementara itu, indeks S&P ASX 200 di bursa Sydney melemah 0,2 persen. Indeks patokan pasar saham Australia ini kini berada pada level perdagangan 5.315,7 dan telah membukukan kerugian mingguan 2,7 persen Jumat pekan lalu.


Harga emas dunia rebound

Jika pasar saham dunia cemas dengan situasi Crimea dan itu sebabnya harga melandai dan turun, pasar emas dunia justru sedang riang. Sejumlah pengamat menyebutkan bahwa kian memanasnya krisis di Ukraina memicu investor mencari investasi yang lebih aman dan keluar dari pasar saham.

Seperti dikutip dari laman Marketwatch, pada Selasa 4 Maret 2014, imbas dari tindakan provokatif Rusia yang menduduki Crimea, harga emas berjangka untuk pengiriman April melonjak US$28,70 (2,2 persen) ke level US$1.350,30 per ounce di divisi Comex New York Mercantile Exchange. Menurut data FactSet, harga tersebut menjadi harga emas berjangka tertinggi sejak 28 Oktober tahun lalu.

Jumat akhir pekan lalu, menjelang dilakukannya referendum, harga emas berjangka naik lebih dari 3 persen dalam sepekan terakhir. Harga kontrak emas untuk pengiriman April pada Jumat lalu naik lagi US$6,60 (0,5 persen) ke level US$1.379 per ounce di divisi Comex New York Mercatile Exchange. Menurut Factset, ini merupakan tingkat penutupan tertinggi sejak awal September lalu.  

Selain emas, investor global mencari tempat paling aman bagi uang mereka selama krisis Ukraina. Mereka memburu obligasi treasury Amerika Serikat untuk 10 tahun, sehingga memicu imbal hasil obligasi itu turun. Saat Ukraina diambang perang dengan Rusia pada Selasa 4 Maret 2014, imbal hasil (yield) treasury untuk 10 tahun di Amerika Serikat turun 5 basis poin menjadi 2,602 persen.

TERKAIT
File Not Found
TERPOPULER
File Not Found