FOKUS

Bentuk Ormas PPI, Anas Urbaningrum Bidik Pemilu 2019?

"Kalau ada yang merasa terancam, berarti bakatnya kontroversi hati.”

ddd
Selasa, 17 September 2013, 00:09 Anggi Kusumadewi, Nina Rahayu, Nur Eka Sukmawati , Nila Chrisna Yulika
Anas Urbaningrum mendeklarasikan ormas Perhimpunan Pergerakan Indonesia.
Anas Urbaningrum mendeklarasikan ormas Perhimpunan Pergerakan Indonesia. (Antara/ Widodo S Jusuf)

VIVAnews – Anas Urbaningrum sepertinya sama sekali tak lupa pesan politikus kawakan Golkar Akbar Tandjung yang juga seniornya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Saat mengumumkan berhenti sebagai kader sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat, Akbar termasuk salah seorang sahabat yang paling awal mengunjunginya. Kepada Anas, Akbar mengutipkan ucapan Perdana Menteri Inggris Winston Churcill. “Dalam kehidupan, Anda dibunuh sekali, mati. Tapi dalam politik, Anda dibunuh beberapa kali, bisa bangkit kembali,” kata Akbar.

Ketika itu Februari 2013, tak lama setelah Anas diumumkan Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai tersangka kasus gratifikasi proyek Hambalang. Banyak pihak mengira karir politik Anas sudah tamat. Dijegal di partainya sendiri, tersandung perkara hukum pula.

Anas tampak santai saja. Ia sibuk menerima tamu di rumahnya di Duren Sawit, Jakarta Timur. Dia juga main gertak sambal soal kasus Century, bahkan jalan-jalan ke Bali bertepatan dengan Rapat Koordinasi Nasional Partai Demokrat di Pulau Dewata itu. Tak lupa ia secara berkala memenuhi panggilan KPK untuk diperiksa terkait kasusnya.

Kini tujuh bulan setelah “kejatuhannya”, Anas mengumumkan pembentukan organisasi massa Perhimpunan Pergerakan Indonesia. Deklarasi PPI di kediaman Anas, Minggu 15 September 2013, dihadiri para loyalisnya di Partai Demokrat – Ketua DPP Demokrat yang juga Ketua Komisi III DPR Gede Pasek Suardika, Wasekjen Demokrat Saan Mustofa, anggota Dewan Pembina Demokrat, Achmad Mubarok, Ketua DPD Demokrat Kalimantan Timur Isran Noor, dan mantan Ketua DPC Demokrat Cilacap, Tridianto.

Pasek yang menolak jadi caleg Demokrat untuk Pemilu 2014, pada kesempatan itu mengumumkan akan menjadi Sekretaris Jenderal PPI. “Ketua Presidium PPI Mas Anas, Sekjen saya. Struktur kepemimpinan baru akan disusun,” kata Pasek dengan wajah sumringah.

Bersama Anas, dia mengacungkan jempol di samping plang PPI yang bertuliskan slogan “Bergerak untuk Indonesia yang lebih baik.”

Anas mengatakan, berdirinya ormas PPI bagian dari dinamika politik. Ia belum tahu apakah di masa depan PPI akan bertransformasi menjadi partai politik atau tidak. Yang jelas, Anas sadar diri tak membidik Pemilu 2014 sebagai loncatan baginya untuk kembali ke dunia politik. Dengan kasus hukum yang menjerat dan membuatnya bisa ditahan KPK kapan saja, amat mustahil berkiprah di ranah politik saat ini.

Tapi Anas masih punya harapan dalam jangka panjang. Alih-alih menyebut Pemilu 2014, ia justru menyebut tahun 2019. “Ini kan tahun 2013. Pemilu 2019 masih jauh sekali. PPI adalah ikhtiar politik yang diniatkan untuk jadi ormas. Partai di tempat lain,” kata mantan Ketua Fraksi Demokrat itu.

Yang terpenting, melalui PPI ini Anas bisa menghimpun para loyalisnya. Entah jadi partai politik atau tidak, wadah ini mutlak ia perlukan untuk berkomunikasi dengan para pendukungnya. “Rumah ini dipilih bukan lewat penetapan atau konvensi, tapi karena kesadaran bersama,” kata Anas menyentil Demokrat yang sedang menggelar konvensi calon presiden 2014.

Juru Bicara PPI Tridianto menyatakan, ormas ini memang dibangun oleh para loyalis, teman, dan sahabat Anas. Anggotanya pun lintas partai, mulai dari kader Demokrat sampai Hanura. “Kami ormas terbuka yang ke depannya bisa ikut memberi masukan bagi kebijakan-kebijakan pemerintah,” kata dia.

PPI untuk saat ini fokus bergerak di bidang sosial budaya dengan cita-cita mewujudkan kebhinnekaan di Indonesia. PPI pun akan segera membentuk pengurus di berbagai daerah di seluruh provinsi. “Struktur organisasi masih kami kembangkan. Yang penting sumber dana PPI jelas,” ujar Tridianto.

Sinisme Petinggi Demokrat

Ormas baru bentukan Anas tersebut ditanggapi dingin di kalangan petinggi Demokrat. “Siapapun bisa membuat ormas. Tukang becak pun bisa,” kata Ketua Harian Partai Demokrat Syarif Hasan.

Ia terang-terangan mengatakan tak mendukung ormas Anas. “Anas itu masa lalu,” ujar Menteri Koperasi itu.

Sementara Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Nurhayati Ali Assegaf, mempertanyakan sejauh mana peran dan keterlibatan sejumlah anggota Demokrat yang menghadiri deklarasi PPI di dalam ormas itu. Ucapan Pasek yang menyatakan akan menjadi Sekjen PPI khususnya disorot Nurhayati.

“Sebagai apa Pasek di sana, kami harus tahu karena kami (anggota Demokrat) kan satu garis. Garisnya ke Pak SBY,” kata Nurhayati.

Ia berencana memanggil Pasek untuk meminta penjelasan. “Saya akan tanya kehadiran Pasek di sana sebagai apa. Kalau dalam kapasitas hanya berteman, tidak apa-apa,” ujar Ketua Fraksi DPR itu.

Berbeda dengan Syarif dan Nurhayati, Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Marzuki Alie, menyambut baik berdirinya PPI. Ia meminta Demokrat tak kebakaran jenggot karena anggotanya dekat dengan ormas itu. “Sepanjang niat ormas itu baik, tak ada persoalan. Di luar partai, itu hak masing-masing pribadi (untuk bergabung dengan ormas). Kita tidak bisa melarang orang,” kata Ketua DPR itu.

Anas menyatakan, PPI bukan didirikan untuk mengancam Partai Demokrat. Menurut dia, PPI hanyalah alinea pertama dari halaman kedua cerita hidupnya. “Kami tidak bermaksud mengancam partai manapun. Kalau ada yang merasa terancam, berarti bakatnya ‘kontroversi hati’,” kata Anas guyon menggunakan istilah 'trendi' Vicky Prasetyo, mantan tunangan pedangdut Zaskia Gotik.

Pasek menegaskan, ia tidak melanggar aturan apapun dengan bergabung ke PPI bahkan ikut membidani kelahiran PPI. “Ibarat radio, parpol itu salurannya FM, ormas itu AM. Jadi tidak ketemu jalurnya. Tidak ada konstitusi negara maupun partai yang saya salahi karena kebebasan berkumpul, berserikat, dan mengeluarkan pendapat itu hak pribadi,” kata Wakil Ketua Fraksi Demokrat itu.

“Ikut ormas ini enteng-enteng saja. Tidak usah ditanggapi berlebih. Kalau soal parpol, saya ikut Pak SBY. Kalau ormas, saya ikut Anas,” kata dia.

Pasek mengatakan, toh selama ini dia dan kader Demokrat lainnya, Jafar Hafsah, juga terlibat dalam ormas Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) pimpinan Prabowo Subianto.

Tridianto mengatakan, PPI tak akan terpengaruh kasus hukum yang membelit Anas. “Walau Anas nantinya ditahan KPK, ini tidak menjadi penghalang bagi PPI untuk terus mengibarkan sayap dan hadir di daerah-daerah,” ujarnya.

Contek Nama?

Nama ormas Anas dipersoalkan sosiolog UGM, Arie Sujito, karena mirip dengan nama ormas bentukan dia, ekonom Faisal Basri, dan politisi Budiman Sudjatmiko pada tahun 2004.

Ormas Anas bernama Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), sedangkan ormas Arie Sujito bernama Pergerakan Indonesia (PI). Ormas inilah yang mendorong pencalonan independen Faisal Basri sebagai gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2012.

Arie mengatakan, PI yang sudah punya kepengurusan di 15 provinsi di Indonesia bahkan di tingkat Asia Tenggara, merasa dirugikan oleh kemiripan nama ormas mereka dengan ormas Anas. “Kalau publik mengaitkan nama organisasi kami dengan Anas, kan susah. Anas bermasalah dengan KPK, itu tidak menguntungkan kami,” ujar Ketua Umum PI itu, Senin 16 September 2013.

Tridianto mengaku pernah ditelepon Arie Sujito yang meminta dia dan Anas untuk tidak memakai nama Pergerakan Indonesia. “Kami putuskan pakai nama Perhimpunan Pergerakan Indonesia. Kan tidak sama. Logonya juga beda,” kata dia.

Menurut Tridianto, kemiripan nama merupakan hal wajar di dunia keormasan dan perpolitikan. “Asal tak sama persis karena sesuai peraturan tak akan diizinkan,” ujarnya.

Pasek berpendapat, PPI tak perlu ganti nama hanya karena kemiripan nama dengan PI. “Nama tidak sama, logo tidak sama, orangnya tidak sama, aktivitas tidak sama. Apa masalahnya,” kata dia.

Asal nama Perhimpunan Pergerakan Indonesia, ujar Pasek, berakar dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada tahun 1900-an. “Kata ‘perhimpunan’ itu muncul di Belanda, dan eksistensinya terus berlanjut hingga kemudian berubah menjadi pergerakan. Muhammad Hatta pun menggunakan kata ‘Pergerakan Indonesia’ saat masa perjuangan. Sejarah itulah yang ingin kami bangkitkan lagi menjadi semangat kami,” kata dia.

“Jadi nama ‘Pehimpunan’ atau ‘Pergerakan’ itu milik bersama, warisan pendahulu kita sejak zaman pra-kemerdekaan,” ujar Pasek. Ia meminta kemiripan nama tidak dipersoalkan, yang penting semua pihak berbuat terbaik untuk mengisi kemerdekaan.

Baca juga:

Anas Urbaningrum, Kandasnya Politisi Muda Cemerlang?



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com