FOKUS

Melacak Jejak Bunda Putri, Wanita Misterius di Suap Sapi Impor

Pernah terlihat di acara PKK Kementerian Pertanian. Benarkah itu dia?
Kamis, 5 September 2013
Oleh : Aries Setiawan, Syahrul Ansyari, Erick Tanjung, Dedy Priatmojo
Ridwan Hakim (berbaju hitam) disadap KPK ketika berbincang dengan Bunda Putri dan Luthfi Hasan.

VIVAnews - Nama Bunda Putri menyita perhatian publik. Bunda Putri disebut memiliki peran dalam kasus suap pengurusan impor daging sapi di Kementerian Pertanian yang menyeret mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Luthfi Hasan Ishaaq.

Wanita ini punya pengaruh besar untuk mempengaruhi kebijakan elit politik di Partai Keadilan Sejahtera, bahkan kabinet. Padahal selama proses penyelidikan dan penyidikan di KPK, tidak ada nama Bunda Putri.

Nama Bunda Putri muncul di perbincangan publik berdasarkan rekaman hasil sadapan penyidik KPK yang diputar di sidang kasus suap pengurusan kuota impor daging sapi untuk PT Indoguna Utama, Kamis 29 Agustus 2013. [Baca: Ini Rekaman Percakapan Luthfi Hasan, Ridwan, dan Bunda Putri]

Bunda Putri dalam rekaman penyadapan itu terkesan punya pengaruh besar di pemerintahan. Luthfi Hasan menyebut Bunda Putri bertugas "Mengkondisikan orang-orang pengambil keputusan agar keputusannya sesuai dengan apa yang dia mau." [Baca selengkapnya di sini]

Sosok Bunda Putri menjadi misterius, karena Ridwan tak mau mengungkap gamblang siapa Bunda Putri sebenarnya. Bahkan hakim anggota Made Hendra pun dibuat geram dengan kesaksian Ridwan. Hakim Made heran mengapa  Ridwan yang tidak mau menjelaskan siapa sosok Bunda Putri yang dapat memanggil Presiden PKS dan menteri ke rumahnya.

Putra keempat Hilmi itu hanya mengatakan Bunda Putri adalah seorang pengusaha yang sudah dikenalnya sejak 2010, dan menjadi mentornya dalam berbisnis serta punya perkebunan pinang di Kalimantan.

Perlahan, identitas Bunda Putri mulai terkuak. Narasumber VIVAnews di Kementerian Pertanian mengungkapkan siapa Bunda Putri itu.

Bunda Putri, kata sumber itu, adalah istri salah seorang pejabat eselon satu di Kementerian Pertanian. Di kalangan pegawai Kementerian Pertanian, tokoh ini kerap disapa dengan nama "Bunda".

"Istri pertama sudah lama cerai, dan istri kedua adalah artis, masih muda tapi sudah diceraikan," katanya.

Sebelum menikahi Bunda Putri, beredar kabar di kalangan pegawai Kementan, sang pejabat eselon satu mengirimkan surat ke Menteri Pertanian. Isi surat menyebutkan, sang pejabat itu akan menceraikan istri keduanya yang seorang artis. Kemudian pada akhir tahun 2012 sang pejabat eselon satu itu menikahi Bunda Putri.

Disebutkan sumber, Bunda Putri bukan wanita muda. Usianya sekitar 60 tahun, rambutnya pendek. Sementara sang pejabat eselon satu berusia 54 tahun.

Bunda Putri disebut-sebut oleh kalangan pegawai di Kementerian Pertanian adalah mantan istri Kepala Dinas Pertanian dan Holtukultura Pemprov Kalimantan Barat, Hazairin. Suaminya saat ini adalah teman dekat Hazairin.

Namun saat dikonfirmasi, Hazairin membantah pernah menikah dengan perempuan bernama Bunda Putri. Dia mengaku tidak mengenal wanita yang namanya disebut berperan penting dalam kasus suap impor daging sapi di Kementerian Pertanian tersebut.

"Bunda Puteri itu bukan mantan istri saya. Saya tidak kenal dia," kata Hazairin saat dikonfirmasi VIVAnews.

Meski demikian, dia tidak membantah sebagai teman dekat suami Bunda Putri sejak zaman kuliah di Bogor. "Iya dia (suami Bunda Putri) teman dekat saya sejak kuliah dulu," katanya.

"Tapi sudah dua tahun ini saya jarang bertemu dengan dia. Sekarang jarang berkomunikasi dengan dia. Dulu memang sering karena saya kan Kepala Dinas dan dia Dirjen," ungkapnya.

Sementara menurut seorang staf di Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Bunda Putri sering datang ke kantor tersebut. Petugas itu mengatakan wanita itu biasa disapa dengan sebutan 'Bunda' oleh pegawai.

"Iya ibu pernah ke sini (Bunda Puteri). Kalau ada acara PKK kementerian beliau datang," katanya.
 
Berumah di Pondok Indah
Bunda Putri diketahui punya rumah di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Dari pantauan VIVAnews, rumah mewah dua lantai bernuansa oranye-putih itu berdiri megah di pinggir jalan raya Pondok Indah Jakarta Selatan.

Halaman depannya yang luas ditumbuhi pohon palem dan tanaman-tanaman lain. Di situ terparkir mobil Toyota Innova hitam, Mercedes-Benz hijau, dan Honda CRV hijau lumut.

Menurut Heri, seorang penjaga rumah tetangga Bunda Putri, pemilik rumah jarang kelihatan. Namun, sepengetahuannya, di rumah tersebut sering kedatangan banyak tamu bermobil mewah.

"Banyak mobil parkir. Biasanya mobil-mobil tamunya parkir di samping rumah yang lahan kosong itu (sambil menunjuk lahan kosong di samping rumah). Tamunya biasa datang sekitar jam 5 sore," ucap Heri.

Bahkan dia sesekali pernah menanyakan soal tamu-tamu Bunda Putri ke penjaga dan satpam di rumah tersebut.

"Saya pernah tanya sambil bercanda pada penjaga rumah dan satpamnya, 'wah banyak tamu, banyak tip dong?". Kata penjaga rumahnya, setiap ada tamu mereka memang sering dikasih duit oleh para tamu itu. "Mulai dari satpam, tukang kebun, pembantu, dikasih duit semua," ungkapnya.

Saat ditemui, penjaga rumah Bunda Putri, Joni, mengatakan majikannya adalah pebisnis yang sibuk. Namun ia tidak tahu persis usaha apa yang ditekuni Bunda Putri.

"Saya kurang tahu bisnis di bidang apa saja. Yang pasti dia berbisnis dan bekerja. Sekarang dia sedang ke luar kota," kata Joni di kediaman Bunda Putri yang memiliki luas sekitar 800 meter persegi. Menurutnya, Bunda Putri tinggal di rumah itu bersama keluarga, tidak seorang diri.

PKS bantah pengalihan isu
Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Shera Arifinto, Rabu 4 September 2013 membantah sengaja memunculkan nama Sengman dan Bunda Putri di pengadilan untuk mengalihkan isu suap kuota impor daging yang menyeret Ketua Majelis Syuro, Hilmi Aminudin. [Tonton video: Siapakah Sengman dan Bunda Putri?]

Dia juga menegaskan, bahwa nama-nama yang disebut Ridwan bukan kader PKS. "Tidak ada nama itu dalam daftar anggota," katanya.

Menurut Mardani, sejak awal, kasus kuota impor daging justru sudah dipolitisir dan sengaja memperburuk citra PKS. "Yang jelas, kalau PKS tidak punya tujuan apapun untuk membuat ini dipolitisasi," kata Mardani di Gedung DPR, Jakarta.

Karena itu, Mardani berharap kasus ini segera diselesaikan. Dia juga meminta kepada KPK agar tidak mengesampingkan fakta-fakta persidangan yang terungkap.

Mardani juga mempersilakan pihak yang merasa dirugikan dengan keterangan Ridwan Hakim untuk melapor ke polisi atas pencemaran nama baik, karena telah menyebut nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di persidangan.

"Kalau ada materi pengadilan ada satu atau dua yang merespon, semua punya hak untuk memberikan respon selama dalam koridor hukum. Silakan saja kalau ada haknya (untuk melapor)," kata dia.

Respons KPK
Komisi Pemberantasan Korupsi merespon keterangan Ridwan yang menyebut Bunda Putri sebagai sosok yang bisa mempengaruhi kebijakan elit PKS dan kabinet. Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menyatakan, keterangan Ridwan itu harus dibuktikan.

Menurutnya, peran Bunda Putri sebagaimana diungkapkan Ridwan belum tentu terkait dengan kasus yang tengah bergulir di persidangan. KPK, katanya, harus fokus pada dakwaan kasus suap impor daging sapi.

"Dugaan saya (mengungkap sosok Bunda Putri) Penuntut KPK ingin buktikan bahwa pengaturan-pengaturan itu atas campur tangan orang lain yang punya pengaruh. Ada orang-orang yang bekerja di ruang-ruang gelap tapi pengaruhi ruang-ruang terang. Itu kan bahaya. Itu namanya tidak transparan," kata Bambang.

Soal siapa Bunda Putri yang dimaksud Ridwan, Bambang mengaku KPK tidak mengenalnya. Dia menyayangkan keterangan Ridwan soal nama-nama seperti Bunda Putri, Sengman, Haji Susu, dan Pak Lurah keluar di pengadilan.

"Kalau seseorang menyebut nama dalam proses itu, mestinya kan dia sebut itu waktu pemeriksaan di penyidikan, bukan di pengadilan. Masa mau dipanggil lagi proses sedang berjalan," kata Bambang.

"Ini bisa berkembang bisa nggak. Tetapi saksi jangan main-main, ketika anda diperiksa sebagai saksi, kemukakan semuanya. Kalau nggak bisa disebut bluffing," ujarnya.(np)

TERKAIT
File Not Found
TERPOPULER
File Not Found