FOKUS

Siapa Perusahaan Pemenang Tender MRT Jakarta

Pembangunan tahap pertama diperkirakan memakan dana Rp15 triliun.

ddd
Kamis, 25 April 2013, 21:10 Siti Ruqoyah, Rohimat Nurbaya, Eka Permadi
Ilustrasi MRT
Ilustrasi MRT (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

VIVAnews - Hari ini, Kamis 25 April 2013, seluruh jajaran Direksi PT Mass Rapid Transit Jakarta mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham secara tertutup di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat. Berdasarkan agenda, usai rapat, mereka akan mengumumkan perusahaan mana saja yang menang tender dalam proyek transportasi massal itu.

Tapi, Direktur Utama PT MRT Jakarta, Dono Boestami, mengatakan pihaknya tidak bisa mempublikasi hasil pemenang tender lantaran harus mengikuti prosedur perusahaan yang memberikan waktu sanggah selama lima hari.

"Jadi, nama perusahaan pemenang tender sudah kami kantongi, masih bisa berubah dalam kurun waktu lima hari ke depan. Setelah itu, baru ada seremoni untuk mengumumkan pemenang. Kami menghormati proses tender," ujar Dono usai rapat. Dia menjelaskan pada rapat kali ini pihaknya hanya membahas penetapan pemenang tender.

Beberapa nama perusahaan yang ikut lelang di antaranya adalah: PT Wijaya Karya (WIKA) dan Jaya Konstruksi. Dua perusahaan itu mengajukan pengerjaan paket bawah tanah dari Jalan Sisingamangaraja hingga Bundaran HI.

Selain itu ada perusahaan asal Jepang, yaitu Shimizu dan Obayashi. Adapun, peserta lelang lainnya adalah Hutama Karya dan Sumitomo Mitsui Construction Company.

Dono menambahkan dalam rapat tersebut pihaknya juga mengumumkan direksi baru PT MRT. Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Erry Riyana Hardjapamekas dipilih menjadi Komisaris Utama menggantikan Achmad Harjadi.

Kepala Badan Penanaman Modal dan Promosi (BPMP) DKI, Catur Laswanto, menjelaskan dalam menjalankan tugasnya, Erry akan dibantu empat komisaris yang baru. Mereka adalah Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI, Sarwo Handayani; Penasihat Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Krisbiantara; Dirjen Perkeretaapian Tunjung Inderawan; dan Dirjen Perimbangan Keuangan Adriansyah.

Argo sudah jalan

Di tempat terpisah, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama, menjelaskan Projek MRT dibagi dua paket. Kedua paket ini dilelang dalam tender berbeda, underground (di bawah tanah) dan elevated (di atas permukaan tanah).

"Pemenangnya tujuh konsorsium. Untuk tender underground ada tiga paket, sisanya elevated. Mulai hari ini argo sudah jalan. Semua harus siap jalan," katanya.

Ketujuh konsorsium ini mempunyai waktu lima hari untuk menyanggah keputusan pemenang tender. Ini ruang bagi peserta tender untuk mempertanyakan apa yang kurang jelas. "Setelah lima hari tanpa tanggapan semua dianggap selesai. Jadi minggu depan seremoni soft launch bisa dilakukan,"ujarnya.

Usai bertemu Ahok, Dono mengatakan soft launch kemungkinan dilakukan di sekitar Bundaran Hotel Indonesia (HI). "Lokasi ini dipilih karena salah satu stasiunnya ada diwilayah HI," katanya.

Untuk jalur HI - Lebak bulus akan dibangun 13 stasiun. Tujuh stasiun di bawah tanah dan enam elevated. Proyek ini akan menghabiskan dana sebesar Rp15 triliun berupa pinjaman dari JICA.

Penghitungan anggaran dimulai hari ini. Sesuai kesepakatan, Pemda DKI Jakarta harus membayar 49 persen pinjaman dan 51 persen lainnya dibantu pemerintah pusat.

Pernyataan Ahok ini sepertinya menandakan bahwa proses pembangunan MRT bakal segera dimulai. Sebelumnya, nasib proyek ini tidak jelas menyusul keenganan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, untuk menandatangani surat tanggung jawab mutlak atas proyek tersebut.


"Saya belum mau tanda tangan. Saya tidak mau nanti semua tanggung jawab mutlak ada di Gubernur. Kalau saya tanda tangan ya saya tidak usah jadi Gubernur, jadi Direktur Utama BUMD saja," kata Jokowi, di Balai Kota Jakarta, Senin 22 April 2013.

Surat pernyataan tanggung jawab mutlak merupakan syarat yang diberikan Kementerian Keuangan guna pencairan dana hibah dari Pemerintah Pusat. Satu poin dalam surat ini adalah Gubernur diminta memberikan pernyataannya sebagai pengguna dana hibah untuk bertanggung jawab penuh atas penggunaan dana.

Apa itu MRT?

Sistem MRT (Mass Rapid Transit) ini diproyeksikan untuk mengangkut penumpang dalam jumlah besar secara cepat dari daerah pinggir kota ke dalam kota dan mengantarkannya kembali ke daerah penyangga (sub urban). Jenis yang akan dibangun oleh PT MRT Jakarta adalah MRT berbasis rel jenis Heavy Rail Transit.

Jika dilihat dari bentuk fisiknya, ada tiga macam sistem MRT. Dua yang pertama adalah BRT (Bus Rapid Transit) atau LRT (Light Rail Transit). Termasuk dalam LRT adalah kereta api rel listrik yang dioperasikan menggunakan gerbong pendek, seperti monorel. Yang ketiga adalah Heavy Rail Transit itu yang memiliki kapasitas besar seperti kereta api Jabodetabek.

Dengan dioperasikannya sistem MRT ini, diharapkan warga beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal.

MRT Jakarta direncanakan bakal meningkatkan kapasitas transportasi publik secara signifikan. Kapasitas angkut MRT Lebak Bulus ke Bundaran HI diharapkan mencapai sekitar 412 ribu penumpang per hari. Selain itu, dipastikan terjadi penurunan waktu tempuh. Dari Lebak Bulus sampai Bundaran HI yang tadinya bisa memakan waktu 1-2 jam pada waktu sibuk, nanti dapat dilintasi hanya 30 menit. Sedangkan dari Lebak Bulus sampai Kampung Bandan, sekitar 52.5 menit saja. 

Berdasarkan Data Revised Implementation Program for Jakarta MRT, pembangunan sarana transportasi massal yang berbasis rel itu rencananya akan membentang kurang lebih sepanjang 10,8 km yang terdiri dari Koridor Selatan – Utara (Koridor Lebak Bulus - Kampung Bandan) sepanjang kurang lebih 3,8 km dan Koridor Timur – Barat sepanjang kurang lebih 87 km.

Pembangunan Koridor Selatan - Utara dari Lebak Bulus – Kampung Bandan dilakukan dalam dua tahap. Pertama, akan dibangun terlebih dahulu jalur yang menghubungkan Lebak Bulus sampai dengan Bundaran HI sepanjang 15,7 km dengan 13 stasiun. Koridor ini ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2016.

Tahap kedua akan melanjutkan jalur Selatan - Utara dari Bundaran HI ke Kampung Bandan (8,1 km) yang akan mulai dibangun sebelum MRT tahap pertama beroperasi. Yang tahap kedua ini ditargetkan beroperasi paling lambat 2018; dipercepat dari target awal 2020. Studi kelayakan untuk ini sudah selesai dilaksanakan.

Koridor Barat - Timur saat ini sedang dalam tahap pre feasibility study. Koridor ini ditargetkan paling lambat beroperasi pada 2024-2027.

MRT Jakarta dibiayai pemerintah melalui pinjaman luar negeri pemerintah ke pemerintah dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Pembangunannya sudah mulai direncanakan sejak tahun 2002 saat Sutiyoso menjadi Gubernur DKI Jakarta. Dia sudah merancang biaya, konsep dan desain proyek. (kd)

 



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
romychan
30/04/2013
rupanya jokowo sedikit meniru bp presiden yg suka mengantongi nama pejabat yg dipilih, dan skrg justru nama perusahaan yg dirahasiakan, mudah2an perusahaan yg dirahasiakan kelak tdk macet di tengah jalan.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com