FOKUS

Meski Sudah Ditunda Ujian Nasional Masih Kacau, Apa Sebabnya?

Sejumlah walikota meminta ujian ditunda lagi. Ada naskah yang nyasar.

ddd
Jum'at, 19 April 2013, 01:09 Aries Setiawan, Rohimat Nurbaya, Erick Tanjung, Ikram (Balikpapan), Daru Waskita (Yogyakarta), RHA (Makassar), Bobby Andalan (Bali)
Siswa menunggu naskah Ujian Nasional
Siswa menunggu naskah Ujian Nasional (ANTARA/Basrul Haq)

VIVAnews --Ini masih soal Ujian Nasional. Tingkat SMA tahun 2013. Mestinya ujian itu serempak di seluruh Indonesia, Senin 15 April. Tapi gagal. Lebih dari lima ribu siswa di belasan provinsi gagal ikut ujian. Pemerintah lalu menunda ujian untuk belasan provinsi itu. Digelar Kamis 18 April 2013.

Ujian ditunda agar semua mulus. Kertas ujian sampai di sekolah dan tak ada lagi masalah teknis. Setelah meminta maaf Minggu pekan lalu karena penundaan itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berjanji membereskan masalah ini. Rabu 17 April dia memastikan bahwa soal ujian untuk 11 provinsi itu sudah terkirim.

Faktanya tidak semua beres.

Lihatlah yang terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur. Tidak semua SMA di sana mendapat naskah untuk ujian susulan Kamis kemarin itu. Walikota Samarinda, Syaharie Jaang, dengan tegas melarang sekolah di wilayahnya melaksanakan ujian nasional, bila naskah soal belum lengkap.

Dia juga meminta agar sekolah tidak menggandakan naskah soal ujian. Menutup kekurangan dengan menggandakan kertas pertanyaan, kata Jaang, justru tidak baik untuk kondisi psikologis siswa. Meski alasan itu mungkin belum tentu benar, sikap tegas Pak Walikota ini disetujui banyak kalangan di sana.

Sampai waktu pelaksanaan ujian Kamis kemarin itu, ada 12 SMA di Samarinda yang belum mendapat soal ujian. Termasuk SMA 10 Melati, sekolah terfavorit di Kalimantan Timur. Selain itu, ada 11 Madrasah Aliyah, 2 SMK dan 1 kelompok penyelenggara program kejar paket C yang juga belum mendapatkan kiriman soal.

Dari sejumlah sekolah itu, kata Jang, setidaknya 2800 peserta yang belum mendapat kertas ujian. Lantaran jumlahnya begitu banyak, Pak Walikota mengambil sikap tegas. Ujian ditunda. “Saya mending dimarahi menteri daripada dimarahi 2800 anak yang tidak dapat soal," begitu alasannya. Jika sikap keras ini dianggap salah, dia siap dijatuhi sanksi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Selain belum mendapat bahan ujian, ada juga kertas soal yang salah alamat. Soal nyasar itu membuat ujian yang seharusnya serius ini, terlihat seperti main-main. Masih di Samarinda itu, sebuah SMK pariwisata justru mendapat soal ujian seputar teknologi. "Bagaimana murid yang sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian kepariwisataan bisa mengerjakan soal teknologi?" tanya pengurus rayon yang juga Kepala SMK 1 Samarinda, Muhammad Fahrurrozi.

Lantaran tidak sesuai, sang kepala sekolah mengembalikan naskah ujian itu kepada panitia. Dan meminta soal yang memang diperuntukan bagi siswa Parawisata.

Penundaan juga terjadi di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur. Mestinya Senin pekan ini, ditunda Kamis dan ditunda lagi menjadi Jumat 19 April 2013. Penundaan itu diputuskan Walikota Kupang, Jonas Salean. Alasannya? Sama dengan Samarinda itu. Naskah ujian belum merata dibagi. Tidak semua siswa dapat naskah.

Walikota Kupang langsung menggelar rapat soal ini. Hadir dalam rapat itu antara lain Dinas Pendidikan Kota Kupang dan perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayan. Keputusannya adalah jika hingga Jumat ini tidak semua siswa dapat naskah ujian, maka jalan keluarnya adalah fotokopi. Jumlah yang harus difotokopi adalah 750 naskah ujian.

Di Kota Bitung, Sulawesi Utara, pelaksanaan ujian nasional untuk tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang sedianya digelar Kamis kemarin, juga terpaksa ditunda sampai Jumat 19 April. Alasannya sama juga. Distribusi nahkah ujian bermasalah. "Ini akan mempengaruhi siswa, karena sebenarnya pelaksanaan ujian itu harus bersamaan," ujar Wali kota Bitung Hanny Sondakh kepada VIVAnews.

Kisruh ujian nasional juga terjadi di Nusa Tenggara Barat, Kamis 18 April 2013. Semula dijadwalkan ujian digelar pukul 7 pagi waktu setempat. Lantaran banyak sekolah yang belum mendapat naskah ujian, maka ditunda hingga pukul 1 siang. Sebuah SMA di Bali juga menunda ujian lantaran naskah soal belum kunjunng sampai.

Meski naskah ujian terlambat dan kurang, di Sulawesi Selatan ujian tetap digelar Kamis 18 April. Bagaimana caranya? Panitia meminta semua guru dan pengawas memperbanyak naskah itu.

Para siswa yang belum mendapat naskah ujian tetap berada di kelas dan tetap tenang hingga siswa yang lain selesai. "Soal yang digunakan siswa sebelumnya diberikan kepada siswa yang belum menerima naskah tadi," kata tim pemantau lapangan ujian nasional dari Universitas Hasanuddin,Alimin Baddo.

Menteri Salahkan Percetakan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menyebutkan bahwa penyebab karut marutnya pelaksanaan ujian nasional 2013 adalah PT Ghalia Printing, salah satu perusahaan yang menang tender percetakan kertas ujian.

"Sebenarnya kalau dicari akarnya yaitu adalah di percetakan itu. Bukan (Kemendikbud), karena wong yang lima (percetakan) itu ok kok. Dari enam itu, satu yang tidak bisa penuhi janjinya," kata Menteri Nuh, Kamis 18 April 2013.

Selain mencetak naskah soal SMA, Ghalia Printing juga mengerjakan naskah ujian nasional tingkat SMP. Karena, naskah soal ujian nasional untuk SMP, SMA dan SMK, satu paket. Demi menghindari masalah lagi, kata Nuh, pemerintah akan mengambil alih sebagian jatah Ghalia dalam mencetak naskah untuk SMP.
Ghalia hanya menyiapkan naskah soal ujian nasional SMP untuk satu provinsi saja yaitu, Bali. Sedangkan, yang lain diberikan kepada penyedia jasa yang telah memenuhi persyaratan yaitu pemenang tender.

Mengapa Ghalia yang tidak siap itu, bisa menang tender? Nuh menjelaskan bahwa lima perusahaan yang menjadi pemenang tender itu lulus melewati proses yang ketat. Para pemenang dinilai dari pengalaman, sistem yang dimiliki dan kemampuan teknis dalam mengerjakan proyek. Mekanisme tender ini digelar secara terbuka.

Meski begitu, dia berjanji akan menginvestigasi penyebab kegagalan ujian nasional serentak di seluruh Indonesia. Kemendikbud sudah membentuk tim investigasi. Tim itu dipimpin oleh Dirjen Kemendikbud."Sanksi tergantung dari tingkat derajat kelalaian ataupun kesalahan," kata Nuh.

Wakil Ketua DPR,  Pramono Anung, mengkritik pemerintah soal kekacauan pelaksanaan ujian nasional ini. Pramono menilai, manajemen yang ada di Kemendikbud sangat buruk."Bukan hanya jelek, tapi buruk sekali,” katanya di Jakarta Kamis 19 April 2013. Apalagi, kata Pramono, tidak terlihat upaya yang serius membereskan masalah ini.

Pramono meminta Mohammad Nuh agar bertanggungjawab atas kekacauan ini. Bukan hanya dengan kata-kata, tapi tindakan. Bertanggungjawab, katanya, bisa dalam banyak bentuk. Seperti menjatuhkan hukuman bagi anak buah.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
moellyadiee
21/04/2013
semua dibalik ini pasti uangnya di korup
Balas   • Laporkan
rakyatmu
19/04/2013
menteri satu ini...leletttt...
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com