FOKUS

SBY dan Perburuan Penyerang Lapas Cebongan

Baru kali ini terjadi penyerangan bergaya militer.
Selasa, 26 Maret 2013
Oleh : Anggi KusumadewiDaru Waskita (Yogyakarta)
Lapas Cebongan dijaga ketat personel TNI dan Brimob usai diserbu kelompok bersenjata misterius.
VIVAnews – Penyerangan kelompok bersenjata misterius terhadap Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, membuat masyarakat terhenyak. Empat tahanan yang belum sampai sehari dititipkan Polda DIY di Lapas itu tewas ditembak. Keempatnya merupakan tersangka kasus pengeroyokan yang menewaskan anggota Detasemen Pelaksana Intelijen Kodam IV Diponegoro, Sersan Kepala (Serka) Heru Santosa.

Serbuan gerombolan tak dikenal di Lapas Cebongan yang berada di bawah tanggung jawab Kementerian Hukum dah HAM itu tak pelak membunyikan alarm di seantero negeri. Sejak era Reformasi dimulai tahun 1998, baru kali ini terjadi penyerangan bergaya militer yang amat taktis terhadap fasilitas pemerintah yang bukan berada di wilayah konflik. Dalam tempo kurang dari 10 menit, kelompok bersenjata laras panjang itu melumpuhkan penjaga Lapas dan menembus lima lapis pintu Lapas menuju sel tempat mereka mengeksekusi empat tahanan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun akhirnya memerintahkan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo untuk mengusut tuntas, memburu, dan menangkap kelompok penyerang Lapas Cebongan itu. “Presiden SBY menyatakan pembunuhan brutal terhadap empat tahanan Lapas Cebongan di Sleman sebagai serangan langsung terhadap kewibawaan negara,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik, Daniel Sparringa, Selasa 26 Maret 2013.

Sparringa mengatakan, Presiden meminta Kapolri menyeret semua pelaku penyerangan Lapas Cebongan ke pengadilan untuk diproses hukum. Presiden juga memerintahkan kepada Panglima TNI untuk menginstruksikan kepada seluruh jajaran TNI guna bekerja sama dengan Polri mengungkap identitas pelaku. SBY tak memandang enteng kasus ini karena berdampak langsung kepada negara.

Presiden menilai serangan terhadap Lapas itu sebagai ancaman serius terhadap rasa aman warga. “Serangan itu juga memporak-porandakan kepercayaan umum terhadap supremasi hukum di Republik ini,” kata Sparringa. Oleh sebab itu Presiden memerintahkan kewibawaan negara harus dipulihkan dan kepercayaan rakyat terhadap hukum tidak boleh berkurang karena peristiwa ini.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan HAM Djoko Suyanto juga meminta penyerang Lapas Cebongan dicari dan diburu ke manapun sampai tertangkap. “Siapapun pelaku kekerasan harus segera diusut dan dicari sampai ketemu untuk diseret ke pengadilan,” kata dia.

Langkah Polri

Kepolisian sampai saat ini belum menemukan titik terang soal kelompok manakah yang sesungguhnya menyerang Lapas Cebongan, lewat tengah malam atau dini hari Sabtu, 23 Maret 2013. Polda DIY bahkan berterus-terang jika pihaknya mengalami kesulitan dalam mengungkap pelaku penyerangan itu.

“Kami masih terus bekerja keras untuk mengungkap kasus ini,” kata Kapolda DIY, Brigjen Pol Sabar Raharjo. Kapolres Sleman AKBP Heri Sutrisman juga menyatakan hal senada. Saat ini polisi masih memeriksa saksi-saksi dan mengumpulkan serta menguji barang-barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian. “Ada 45 saksi yang sudah kami mintai keterangan untuk didalami,” ujar Heri.

Meski kesulitan, namun bukan berarti tidak ada kemajuan yang diperoleh polisi dalam memburu jejak penyerbu Lapas. Kabid Humas Polda DIY AKBP Anny Pujiastuti mengatakan, polisi menemukan sejumlah fakta berdasarkan pemeriksaan terhadap saksi-saksi. Misalnya, proses eksekusi keempat tahanan Lapas hanya dilakukan oleh satu orang dari kelompok itu.

“Siapa eksekutor ini, masih kami cari. Kami tidak ingin berspekulasi. Kami akan bertindak profesional sesuai aturan hukum. Siapapun akan kami tindak tegas, tidak pandang bulu” kata Anny. Sementara itu dari tempat kejadian perkara, polisi menemukan 31 selongsong peluru kaliber 7,62 milimeter. Barang bukti itu kini masih diteliti.

Secara terpisah, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Marciano Norman mengatakan, peluru kaliber 7,62 milimeter kini sudah tidak dipakai anggota TNI lagi. “Setahu saya dan sudah kami cek, kaliber 7,62 bukan standar TNI lagi,” kata Marciano di Istana Merdeka, Jakarta, Senin 25 Maret 2013.

Sementara soal ciri-ciri umum penyerang Lapas Cebongan itu, polisi mengatakan mereka mengenakan skebo atau penutup wajah, rompi warna hitam, sepatu kets hitam, celana jeans biru dan hitam, dan sebagian memakai sepatu panjang PDL (Pakaian Dinas Lapangan) berwarna hitam. Anny menolak merinci satuan militer mana yang biasa menggunakan sepatu jenis itu. “Kami masih dalami,” ujarnya.

Terkait kemungkinan keterlibatan oknum TNI dalam kasus ini, Panglima TNI mengatakan hasil penyelidikan Polri sebagai rujukan untuk melakukan penyelidikan internal. “Kalau hasil penyelidikan kepolisian mengarah kepada keterlibatan anggota kami, pasti kami akan turunkan tim untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut,” kata Laksamana Agus Suhartono.

Ia pun membantah ucapan sebagian pihak yang menyebut metode penyerangan di Lapas Cebongan mirip dengan ajaran yang ada di TNI. “Saya tak bisa komentar karena tidak mengerti taktisnya seperti apa. Tapi ajaran yang ada di tentara terkait operasi khusus penyelamatan sandera,” ujar Agus.

Polri yakin mereka bisa mengungkap kasus penyerangan ke Lapas Cebongan. “Tidak ada kejahatan yang sempurna. Itu rumus penyidik. Kalau tak pakai rumus itu, pasti semua menyerah. Jadi mari kita lihat seperti apa kemampuan penyidik Polri di lapangan,” kata Wakapolri Komjen Pol Nanan Sukarna. Mabes Polri bahkan langsung menunjuk Kabareskrim Komjen Pol Sutarman untuk memimpin penyelidikan.

Operasi yang rapi

Kepala Lapas Cebongan, Sukamto, mengatakan penyerang lapasnya menjalankan operasi yang sangat rapi. “Misalnya salah satu anggota mereka selalu melihat jam tangan,” kata dia. Sukamto yakin jam tangan berperan penting dalam operasi penyerbuan bergaya militer itu karena seluruh aksi berlangsung cepat, hanya berkisar 5-10 menit. Ketepatan waktu dan kecepatan sudah diperhitungkan di sini.

Kelompok penyerang juga merampas kamera CCTV yang berada di ruangan Kalapas. “Saya tak habis pikir kenapa mereka juga mengambil monitor CCTV, LCD TV di ruangan saya. Mereka sangat cerdik karena tahu rekaman CCTV ada di ruangan saya. Pintu ruangan saya pun langsung didobrak,” kata Sukamto yang saat peristiwa penyerangan tidak di Lapas karena tengah berpatroli di jalan-jalan sekitar Lapas.

Pengamat intelijen Mustofa Nahrawardaya mengatakan, penyerangan terhadap Lapas Cebongan merupakan operasi militer yang dilakukan oleh kelompok terlatih dan memiliki kepercayaan diri tinggi. “Saya  tidak menyebut pelakunya militer. Tapi jika bukan orang terlatih dengan kemampuan terukur yang melakukannya, tidak akan bisa,” kata dia.

Salah satu karakter yang dimiliki kelompok ini, menurut Mustofa, adalah tingkat kepercayaan diri yang tinggi. “Mereka tidak takut menghadapi petugas Lapas. Mereka pun bisa melewati 5 pintu Lapas – dari depan menuju sel para korban – dengan mulus,” ujar Mustofa.

Fakta mengerikan lainnya, kata Mustofa, kelompok ini punya pasokan senjata karena mereka menyandang senjata laras panjang AK47 dan melempar granat dalam aksinya. Sipir Lapas ditodong, dihantam popor senapan, dan diancam dengan granat untuk menunjukkan sel empat tahanan yang menjadi target operasi. Begitu tahu lokasi sel, mereka langsung berderap menuju sel tersebut, memerintahkan tahanan lain menyingkir dari target operasi, dan menembak mati keempatnya di hadapan puluhan tahanan lain. (eh)
TERKAIT
File Not Found
TERPOPULER
File Not Found