FOKUS

Demo Kudeta Tak Terbukti, Cuma Aksi Bagi-bagi Sembako

Sebelum demo sudah beritahu Polda. Kudeta, kok beritahu polisi.

ddd
Senin, 25 Maret 2013, 20:29 Aries Setiawan, Rohimat Nurbaya, Arie Dwi Budiawati
Unjuk rasa MKRI di depan Gedung YLHBI
Unjuk rasa MKRI di depan Gedung YLHBI (VIVAnews/Rohimat)

VIVAnews - Rumor kudeta itu tidak terbukti. Hanya meriah sebagai kabar. Sepekan belakangan, memang ramai dikabarkan bahwa akan terjadi aksi demonstrasi besar-besaran, Senin 25 Maret 2012. Agenda para pendemo adalah mengkudeta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono. Keduanya dianggap sudah tak layak menjadi pemimpin. 

Media dan juga para pengamat dibuat sibuk oleh rumor ini. Para pemimpin partai politik, petinggi militer hingga Istana Negara juga ramai menanggapi. Meksi tak begitu jelas, dengan cara apa kelompok pendemo itu menjatuhkan SBY dan Boediono yang ke Istana karena didapuk oleh rakyat dan masih disokong penuh oleh hampir semua kekuatan bangsa, termasuk militer.

Semua tanggapan hampir seragam. Kudeta sungguh mencelakai demokrasi yang dengan susah payah diperjuangkan. Bahkan dengan nyawa para mahasiswa dan warga pada tahun kelam itu. 1998. Kudeta itu tak cukup punya alasan, dari sisi apapun.

Tapi inilah yang terjadi hari ini. Senin 25 Maret 2013 . Sejumlah elemen masyarakat tergabung dalam Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) hanya menggelar aksi simpatik. Bakti Sosial. Mereka membagi-bagikan paket sembilan bahan pokok (Sembako) kepada warga miskin. Sesudah itu mereka berorasi. Menyuarakan ketidakpuasan atas kinerja pemerintah, sebagaimana sejumlah unjuk rasa yang sudah-sudah.

Di depan Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) berdiri sebuah panggung kecil, yang susah diyakini sanggup menggoyang kekuasaan. Ukurannya kurang dari 2x3 meter. Menghabiskan sebagian jalan. Bukan ribuan orang yang datang, tapi ratusan. Polisi yang mengawal mereka sekitar 400 orang.

Tak ada baliho di sana. Tak ada juga atribut yang meminta SBY dan Boediono pergi meninggalkan kekuasaan. Hanya ada beberapa bendera MKRI yang dibawa sejumlah pengunjuk rasa. Warga sudah berkumpul semenjak pukul 9 pagi. Kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak. Mereka rela antre untuk mendapatkan paket Sembako. Memang sebuah bhakti sosial bukan demo.

Sebanyak 3.000 paket sembako pun dibagikan. Ada Bawang Merah dan Bawang Putih. Dua bawang itu memang bikin pusing ibu-ibu rumah tangga belakangan ini. Harganya melangit, pasokan langka. (Baca: Harga Bawang Meroket dan Kemarahan SBY). Para pengunjuk rasa itu memberi Bawang Merah dan Bawang Putih kepada warga sebagai simbol bahwa mengurus bawang saja, pemerintah kita kurang beres.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, MKRI memang mengantongi aksi bakti sosial, bukan demonstrasi untuk menurunkan Presiden SBY. "Kemarin sore, 24 Maret 2013 pukul 18.00 WIB, kami menerima surat pemberitahuan. Dicantumkan kegiatan (MKRI) hari Senin ini adalah bakti sosial di Jalan Diponegoro 74 atau di kantor YLBHI," kata Rikwanto.

Jika benar mau kudeta, anak aneh memang, mana ada kudeta yang ada pemberitahuannya kepada polisi.

Dalam acara itu, lanjut Rikwanto, MKRI meminta izin untuk mengundang 3.000 warga masyarakat untuk menerima sembako. "Jadi tidak ada kegiatan unjuk rasa atau pengerahan massa MKRI di Bundaran HI, Monas, atau DPR. Kegiatan yang ada hanya di YLBHI itu," ujar Rikwanto.

Sekretaris MKRI, Adhie M Massardi, mengatakan aksi bakti sosial ini dilakukan sebagai salah satu bentuk kekecewaan terhadap pemerintahan SBY-Boediono. Adhie menilai aksinya itu wajar, karena pemerintahan yang sekarang ini dirasa belum ada manfaatnya untuk masyarakat. "Apa yang akan dilakukan Pemerintahan SBY-Boediono sampai 2014 belum jelas," kata mantan Juru Bicara Kepresidenan jaman mendiang Abdurrahman Wahid itu. Sampai berakhir jelang sore hari, acara bhakti soal ini berlangsung damai.

Siapa Menghembuskan Isu Kudeta?

Lalu darimana datangnya kabar kudeta itu.  Juan, salah seorang aktivis MKRI menegaskan bahwa sejak awal aksi yang digelar Senin 25 Maret 2013, memang dirancang hanya bakti sosial. Bukan aksi merebut paksa kekuasaan pemerintahan SBY-Boediono sebagaimana digembar-gemborkan. "Itu opini Istana. Kami di sini bukan melakukan yang wah, yang anarki. Kami melakukan sesuatu untuk warga, yakni membagikan Sembako," katanya.

Sekretaris MKRI, Adhie Massardi juga membantah aksi yang digelar sebagai upaya untuk mengkudeta Presiden SBY. Menurutnya, Istana telah menuduh pihaknya akan melakukan demonstrasi besar-besaran bahkan mengambil paksa kekuasaan presiden. "Tuduhan-tuduhan itu jelas tidak terbukti."

Rencana sebelumnya, aksi akan digelar di depan Istana Negara. Tapi karena alasan gangguan keamanan, unjuk rasa dipindahkan ke Jalan Dipenogoro, Jakarta Pusat. Tepatnya di depan kantor YLBHI. Adhie menjelaskan, keputusan mengubah lokasi unjuk rasa itu dilakukan setelah mendapat berita bahwa lapas Sleman diserang oleh sekelompok orang bersenjata. Sejak awal, katanya, aksi ini hanya untuk bagi-bagi Sembako.

Sejumlah tokoh penting sebelumnya memang ramai menanggapi soal kabar kudeta itu. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Din Syamsudin, menegaskan bahwa upaya kudeta itu adalah gejala dari orang yang minta dikasihani oleh rakyat.

Jika dilihat dari sisi psikologi, katanya, pernyataan tersebut cenderung menciptakan kondisi ketertindasan yang diharapkan nantinya orang akan kasihan dan akhirnya memberi dukungan. "Saya kira itu mengada-ada karena sudah berulang kali. Masyarakat Indonesia pun sudah tidak peduli," kata Din di Yogyakarta, Selasa 19 Maret 2013. [Baca selengkapnya di tautan ini]

Pengamat politik Ray Rangkuti menilai, isu terjadinya kudeta pemerintahan SBY dinilai sebagai pepesan kosong. Sejumlah kalangan menduga bahwa kabar burung itu adalah upaya pengalihalihan isu. "Saya rasa ada yang sedang mendramatisasi," kata Ray Rangkuti.

Ray menganggap bahwa ada yang sedang berupaya untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah-masalah yang tengah berkembang saat ini.
"Saya menduga dia ingin mengalihkan publik dari soal-soal yang tengah berkembang, seperti harga bawang yang naik, dan penanganan kasus korupsi Bank Century," katanya.

Selain itu, Ray mengaku bingung saat ada yang menyebut kata kudeta dewasa ini. Menurutnya, secara teoritis, kudeta itu tidak dilakukan oleh masyarakat, melainkan dilakukan oleh militer atau polisi. "Nah, sekarang ini militer saja sudah dipimpin oleh adik ipar Presiden SBY (Pramono Edhie). Kalau ada kudeta, berarti yang perlu dicurigai itu adik iparnya. Apakah dia telah mempersiapkan langkah-langkah untuk menggulingkan dia?" kata dia.

Gerakan rakyat yang paling keras adalah revolusi. Gerakan ini tidak hanya menggulingkan presiden, tetapi juga merombak seluruh pemerintahan.

Partai Demokrat juga menepis anggapan bahwa demonstrasi yang akan diadakan tanggal 25 Maret 2013 nanti adalah upaya kudeta pemerintahan SBY. Hal ini diutarakan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Partai yang didirikan Presiden SBY itu juga menolak tegas upya kudeta atas pemerintahan.

"Partai Demokrat secara tegas menolak apabila ada isu demo yang diarahkan untuk penggulingan pemerintahan yang sah," kata Ibas di Kantor DPP Demokrat, Kramat, Jakarta Pusat, Kamis 21 Maret 2013.

Ibas mengatakan bahwa Partai Demokrat memang menghargai aspirasi yang disuarakan pada demo tersebut. Tapi, dia tidak bisa menerima jika alasan unjuk rasa ini adalah sebagai langkah untuk mengkudeta SBY. Putra bungsu SBY ini menegaskan cara itu bertentangan dengan demokrasi. "Isu kudeta melalui cara-cara yang inkonstitusional tidak hanya mengingkari proses demokrasi, tetapi juga mengingkari pernyataan bahwa pemerintah dan negara Indonesia telah mengalami banyak perubahan yang positif," kata dia.

Dibantah

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo membantah adanya isu kudeta, terlebih yang melibatkan prajurit TNI. Pramono mengatakan, tuduhan kudeta biasanya ditujukan pada tentara. Tapi, ujarnya, hal itu tidak akan pernah terjadi di bumi Indonesia.

“Saya sampaikan kepada para yunior, kudeta adalah hal yang tidak baik. Janganlah bangsa ini diberi cerita seperti itu,” kata Jenderal Pramono Edhie di Mabes AD, Jakarta, Kamis 21 Maret 2013. Ia menekankan pada bawahannya untuk menerima demokrasi.

Oleh karenanya, mantan Panglima Komando Strategi Angkatan Darat itu mengatakan isu kudeta tidak perlu dikembangkan sebab akan memberi cerita buruk bagi Indonesia. “Lalui semua aturan sesuai yang berlaku. AD jelas tak akan kudeta. Saya jamin dan saya jauhkan dari kudeta,” ujar Pramono

Badan Intelijen Negara (BIN) juga sebelumnya sudah mencium bahwa aksi demonstrasi tidak terkait dengan kudeta presiden. Demonstrasi di Jakarta dan provinsi-provinsi lain di Indonesia, Senin 25 Maret, tidak berpotensi mengancam keamanan negara. "Demo ini sama seperti demo kelompok-kelompok lain yang ingin menyampaikan pendapat. Tidak ada indikasi yang menjurus kepada kudeta bersenjata," kata Kepala BIN, Marciano Norman.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
cengceng
26/03/2013
MKRI ITU ISINYA ORANG2 OPORTUNIS YG GA KEBAGIAN JABATAN TAPI TETAP MAU EKSIS.
Balas   • Laporkan
apa_aja
26/03/2013
terbukti MKRI tdk didukung massa
Balas   • Laporkan
pecidasase
26/03/2013
Aktivis abal2.. Banyak ngelanturnya kl ngikut Ranta Sirumpaet.. Cma cari sensasi dan publikasi doang
Balas   • Laporkan
ardianto.benny
26/03/2013
presiden lebbbbaaaayyyyy ........
Balas   • Laporkan
pawiroraden
26/03/2013
PARANOID
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com