FOKUS

Konflik Suriah Memburuk, WNI Bergegas Dipulangkan

Total terdapat lebih dari 600 WNI ditampung di KBRI.
Jum'at, 28 Desember 2012
Oleh : Denny Armandhanu
Keadaan yang memburuk memaksa Kemlu bergegas memulangkan WNI

VIVAnews - Sudah 21 bulan pemberontakan di Suriah berlangsung. Hingga saat ini, revolusi juga belum rampung, justru semakin memburuk. Puluhan ribu warga sipil tewas akibat diberondong peluru tentara Bashar al-Assad. Ratusan ribu lainnya pilih mengungsi karena takut dibunuh.

Pemerintah Indonesia bertindak cepat. Satu-per-satu warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja atau sekolah di Suriah mulai diungsikan. Situasi yang semakin memburuk mau tidak mau membuat Kemlu harus ngebut dalam memulangkan para WNI.

Dalam pernyataannya Kamis kemarin, Kemlu mengatakan bahwa saat ini WNI yang masih ditampung di perwakilan RI Damaskus secara bertahap dipindahkan ke Beirut, Lebanon. Selama ini, rute yang ditempuh untuk repatriasi WNI adalah Damaskus-Beirut-Jakarta, hanya saja kali ini prosesnya dipercepat.

Total terdapat lebih dari 600 WNI yang ditampung di KBRI. Guna menyambut kehadiran 600 lebih WNI, Dimas memanfaatkan sebagian besar ruang kantor KBRI. Jika diperlukan, lanjutnya, KBRI akan menyewa apartemen untuk tempat tinggal mereka.

“Semua sumber daya KBRI dikerahkan untuk membantu proses pemulangan WNI. Karena sesuai arahan pimpinan Kemlu, proses pemulangan ini menjadi prioritas KBRI Beirut saat ini,” ungkapnya.

KBRI juga telah melobi pemerintah Lebanon untuk memberikan visa dengan masa tinggal 10 hari hingga satu bulan lebih panjang daripada visa sebelumnya yang hanya 2 x 24 jam.

Para WNI tidak perlu khawatir kelaparan atau tanpa tempat tinggal, semuanya telah diatur oleh Kemlu. Tim KBRI Beirut untuk Bantuan Proses Repatriasi WNI Suriah, R.A. Arief menuturkan, terdapat sejumlah persiapan yang dilakukan KBRI Beirut untuk menampung WNI termasuk pengadaan selimut, kasur, pembuatan sekat-sekat di dalam kantor guna difungsikan sebagai tempat tidur yang nyaman.

“Stok makanan pokok dan logistik lainnya juga kami tingkatkan untuk mendukung keberadaan WNI di KBRI Beirut,” ujar Arief.

Korban Tewas Bertambah

Gerak cepat KBRI ini dilakukan seiring jumlah korban yang terus meningkat di Suriah. Menurut laporan berbagai lembaga HAM, korban tewas di Suriah sejak dimulainya pergolakan pada Maret 20111 telah lebih dari 40.000 orang.

"Kami telah mendokumentasikan kematian 45.048 orang," kata Rami Abdel Rahman, direktur Pengamat Suriah untuk Hak Asasi Manusia. Sebanyak 1.000 di antaranya terbunuh hanya dalam waktu seminggu lalu, dilansir The Australian.

Rahman mengatakan jumlah ini diperoleh dari laporan tim medis dan para aktivis di lapangan. Dia mengatakan, jumlahnya kemungkinan lebih besar lagi, bisa jadi mencapai lebih dari 100.000 orang.

Salah satu serangan terparah belakangan ini terjadi di wilayah Halfaya sebelah barat Suriah Minggu pekan lalu. Kelompok oposisi Komite Koordinasi Lokal Suriah mengatakan lebih dari 100 orang tewas diberondong pesawat tempur rezim Assad.

Seperti diberitakan CNN, saat itu para korban tengah mengantre untuk membeli roti, makanan yang semakin langka di saat konflik. Sedikitnya 69 orang berhasil diidentifikasi saat itu dan langsung dikuburkan, 15 mayat dikuburkan tanpa diidentifikasi. Sementara itu, setelah lama serangan berlalu, sekitar 25 mayat lainnya masih tergeletak di lokasi.

Kota itu hanya memiliki tiga toko roti. Bahan baku pembuat roti baru dikirimkan pada Sabtu setelah satu minggu produksi terhenti karena kurangnya bahan. Saat toko roti dibuka, tentu saja warga kegirangan karena mereka akhirnya bisa memenuhi kebutuhan pangan.

Saksi mata mengatakan, saat ratusan orang berbaris antre pesawat tempur Suriah tiba-tiba melintas dan warga langsung berhamburan. Empat roket ditembakkan, gedung empat tingkat langsung roboh. Warga mengatakan, tentara Assad yang sadis memang mengincar kerumunan orang sejak kota itu berhasil dikuasai kelompok oposisi Tentara Pembebasan Suriah.

Namun yang paling ditakutkan warga sipil adalah penggunaan senjata kimia oleh diktator Suriah. Hal ini jugalah yang sering disuarakan oleh negara-negara Barat yang digawangi Amerika Serikat.

Pemerintahan Assad sempat membantah mereka menggunakan senjata kimia terhadap rakyat sipil. Namun, para pemberontak Suriah seperti diberitakan Ynetnews mengatakan bahwa tentara Assad menggunakan bom fosfor dan cairan kimia lainnya yang tidak diketahui.

Tidak ada korban dalam penyerangan itu. Pengeboman dengan senjata fosfor tersebut diunggah di laman Youtube. Tidak bisa dikonfirmasi apakah video itu asli atau tidak. Penggunaan bom jenis ini terlarang dalam hukum perang internasional.

Ini bukan kali pertama pasukan pemberontak melaporkan penggunaan senjata kimia. Sebelumnya pada bulan ini, organisasi Human Right Watch melaporkan bahwa tentara Assad menggunakan bom pembakar.

Bom jenis ini menggunakan bahan kimia yang sangat mudah terbakar dan punya daya rusak tinggi. Di antara jenis bom ini adalah napalm, thermite dan fosfor.

Akibat kekerasan yang tidak kunjung usai, semakin banyak warga Suriah yang memilih hengkang. Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), saat ini telah lebih dari 540.000 pengungsi Suriah yang berlindung di Irak, Yordania, Lebanon, Turki dan Mesir.

Setelah penembakan di toko roti, dalam 24 jam 1.000 warga Suriah yang menyeberang ke Turki. Dalam enam minggu terakhir, 140.000 warga Suriah yang pilih mengungsi. Menurut prediksi PBB pada Rabu pekan ini, jumlah pengungsi Suriah akan bertambah hingga 1,1 juta orang pada Juni 2013, jika perang tidak segera usai.

Upaya PBB Mentok

Menggantikan Koffi Annan sebagai utusan khusus PBB untuk konflik Suriah, Lakhdar Brahimi, masih belum menghasilkan kemajuan berarti. Seperti pendahulunya yang telah menyerah, Brahimi harus berjuang mengumpulkan dukungan untuk perdamaian Suriah, terutama dari Rusia.

Selama ini, Rusia dan China dikenal sebagai batu penghalang bagi seluruh upaya PBB. Kedua negara yang merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB ini beberapa kali memveto resolusi untuk Suriah, termasuk resolusi yang hanya mengutuk serangan.

Upaya mendekati kedua kubu yang bertikai juga tidak membuahkan hasil. Pasalnya, baik pemberontak dan pemerintah sama-sama menolak rancangan solusi yang ditawarkan PBB pada konferensi internasional di Jenewa beberapa bulan lalu.

Saat itu, PBB menyerukan gencatan senjata, pemerintah transisi mengendalikan negara sampai dilakukan pemilihan, dan merancang konstitusi baru.

Seruan ini ditolak oposisi yang menilai bahwa solusi PBB tidak mencantumkan kewajiban mundur bagi rezim otoriter Assad.

Sementara rezim pemerintah Suriah mengabaikan solusi PBB tersebut karena menurut mereka itu sama menyerahkan kekuasaan dengan sukarela. (sj)

TERKAIT
File Not Found
TERPOPULER
File Not Found