FOKUS

Mengapa Masjid di Joplin, AS, Terbakar

Masjid tempat dia biasa memimpin salat hangus dilalap api.

ddd
Selasa, 7 Agustus 2012, 21:15 Renne R.A Kawilarang
Kebakaran di Masjid Kota Joplin Missouri AS 6 Agustus 2012
Kebakaran di Masjid Kota Joplin Missouri AS 6 Agustus 2012 (Alvian Salim / VOAIndonesia)

VIVAnews - Tiada yang bisa dilakukan Lahmuddin selain menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia tidak kuasa melihat pemandangan pilu di depannya. Masjid tempat dia biasa memimpin salat hangus dilalap api.

"Saya sedih dan terguncang," ujarnya. Sejak Senin subuh hingga malamnya, Lahmuddin tidak beranjak dari lokasi kebakaran. "Saya masih di depan bangunan, menyaksikan kerusakannya. Tidak ada yang bisa diselamatkan," kata Lahmuddin saat dihubungi wartawan lokal pada Senin waktu setempat "Mungkin ada yang bisa kami ambil hikmahnya dari peristiwa ini," kata Lahmuddin seperti dikutip Herald Online.

Berlokasi di Kota Joplin, negara bagian Missouri, AS, masjid  yang juga menjadi pusat komunitas umat Muslim lokal itu terbakar pada Senin dini hari, 6 Agustus 2012 waktu setempat. Menurut Lahmuddin, setiap bulan suci Ramadan masjid itu sering didatangi para umat untuk beribadah.

"Kemarin malam [Minggu] kami semua meninggalkan masjid sekitar pukul 11.20, setelah menunaikan salat terakhir. Kami seharusnya kembali lagi ke sini pukul 5 pagi untuk salat subuh. Namun, Allah punya rencana lain," ujar Lahmuddin seperti dikutip media setempat, Joplin Globe.  

Menurut Kepolisian Jasper County, laporan kebakaran mereka terima pada Senin pukul 3.30 waktu setempat. Tidak ada korban jiwa maupun yang terluka dari kebakaran itu. Namun, berlokasi di 1302 S. Black Cat Road, bangunan tersebut untuk sementara tidak bisa digunakan untuk beribadah.

Namun, sebagai imam masjid, Lahmuddin menguatkan hati para umatnya. "Kejadian ini tidak akan menghentikan kami sebagai kaum Muslim untuk beribadah kepada Allah," lanjut dia. "Kami akan sembahyang di tempat-tempat lain. Bila tidak menemukan tempat, kami akan salat di rumah masing-masing. Kami tidak akan melewatkan sembahyang lima waktu."    

Maka, di dekat puing-puing masjid, sejumlah umat pada Senin malam tetap menggelar salat tarawih berjamaah di halaman. "Inilah yang kami perjuangkan. Kebebasan beragama, kebebasan berbicara," kata Dr. Ahmed Asadullah, jemaah Masjid Joplin seperti dikutip harian The Washington Post.  

Lahmuddin, yang sudah tinggal di Joplin selama sekitar empat tahun dan menjadi imam masjid, tidak langsung berprasangka bahwa kebakaran ini bisa jadi merupakan aksi yang disengaja.

"Ini cobaan dari Allah di bulan Ramadan. Kami sedang menjalankan ibadah puasa, jadi jangan langsung marah, jangan langsung berkata-kata buruk," kata Lahmuddin.

Dia juga mengungkapkan bahwa para pengurus dan jemaah masjid selama ini berhubungan baik dengan masyarakat setempat, termasuk gereja-gereja di sekitarnya. Pada Sabtu pekan lalu, misalnya, Lahmuddin mengundang sejumlah pengurus dan jemaat gereja-gereja lokal dan pemuka-pemuka Yahudi untuk ikut acara berbuka puasa bersama di masjidnya.

Mereka pun bertukar pikiran mengenai pandangan agama masing-masing dan bertoleransi.

Masjid dan pusat komunitas Muslim Joplin yang dikelola Lahmuddin itu bahkan turut menjadi tempat penampungan pengungsi bencana dahsyat angin topan, yang melanda kota itu pada 22 Mei 2011 dan menewaskan 161 jiwa. Masjid itu pun menjadi salah satu pusat bantuan dan penggalangan dana dari para relawan bencana alam di Kota Joplin.

Namun, tempat ibadah bagi sekitar 50 keluarga Muslim di Kota Joplin sejak 2007 itu untuk sementara tidak bisa digunakan. Menurut Kepolisian Jasper County, laporan kebakaran mereka terima pada Senin pukul 3.30 waktu setempat. Kondisi bangunan kini rusak berat.

Dugaan Sabotase

Pihak keamanan setempat pun mengakui bukan kali ini saja Masjid di Joplin itu dilalap api. Sekitar sebulan lalu, 4 Juli 2012, kebakaran juga terjadi di masjid yang sama dan hanya menimbulkan kerusakan ringan. Namun, pantauan kamera CCTV saat itu mengungkapkan bahwa kebakaran itu merupakan sabotase.    

Namun, pihak berwenang belum bisa menangkap pelaku pembakaran masjid pada 4 Juli itu, walau Badan Penyelidik Federal (FBI) telah menawarkan imbalan US$15.000 bagi yang mengetahui siapa yang bertanggungjawab atas kebakaran itu.

Juru bicara Kepolisian Jasper County, Sharon Rhine, mengungkapkan bahwa pihaknya belum bisa langsung menetapkan apakah kebakaran yang terjadi 5 Agustus itu juga akibat sabotase. Masalahnya, menurut Rhine, kamera CCTV di masjid itu juga terbakar habis dan bekas-bekasnya sulit dilacak.

Tidak hanya kepolisian setempat, kebakaran terkini itu juga melibatkan penyelidikan dari Badan Penyelidi Federal (FBI) dan Biro Alkohol, Tembakau, dan Senjata Api. Sepanjang Senin kemarin, para petugas memindahkan semua reruntuhan masjid sambil mengamankan barang-barang yang bisa menjadi petunjuk. Anjing pelacak pun dikerahkan. 

Namun, merujuk insiden 4 Juli, tidak heran bila muncul kecurigaan bahwa kebakaran Senin kemarin juga hasil sabotase. Padahal, menurut aparat setempat, mereka meningkatkan patroli di sekitar masjid sejak peristiwa 4 Juli. Kecurigaan itu sudah dilontarkan oleh suatu lembaga umat Muslim terkemuka di AS.

Juru bicara The Council on American-Islamic Relations (CAIR), Ibrahim Hooper, mengungkapkan bahwa masih banyak kelompok pembenci agama minoritas di AS yang menyulut insiden seperti yang terjadi di Joplin. Menurut Joplin Globe, Hooper menyebut beberapa kelompok, yaitu Act for America, Stop Islamization of America dan Jihad Watch. 

"Kelompok seperti ini berjalan beriringan dengan suatu kampanye yang didanai dan terkoordinasi secara baik untuk menjelek-jelekkan kaum Muslim di Amerika," kata Hooper. "Kebencian ini pada akhirnya membawa sejumlah konsekuensi," lanjut dia.

Menurut CAIR, para pengurus masjid setempat mengungkapkan bahwa tempat ibadah mereka itu beberapa kali menjadi sasaran insiden dari para kaum picik. Masjid yang sama juga pernah terbakar pada Juli lalu dan diduga ini kesengajaan.

CAIR juga mengingatkan bahwa kebakaran di masjid Missouri ini terjadi sehari setelah penembakan brutal di suatu kuil umat Sikh di pinggir Kota Milwaukee, negara bagian Wisconsin. Insiden itu menyebabkan tujuh orang tewas, termasuk pelaku penembakan.

Insiden-insiden ini menandakan masih lemahnya perlindungan bagi kaum minoritas di AS. "Peristiwa-peristiwa itu menjadi desakan bagi ditingkatkannya perlindungan polisi atas umat dan tempat ibadah Muslim maupun Sikh di penjuru AS," demikian kata Direktur Eksekutif CAIR, Nihad Awad.

"Bila dibiarkan, intoleransi relijius ini bisa dan benar-benar menyakiti orang-orang yang tidak bersalah," lanjut Awad dalam siaran persnya. Lembaga ini meminta polisi kian meningkatkan perlindungan atas tempat-tempat ibadah umat Islam dan umat lainnya di AS.

CAIR pun menawarkan imbalan sebesar US$10.000 (sekitar Rp94,6 juta) bagi siapapun yang bisa memberi petunjuk atau yang tahu siapa yang bertanggungjawab atas kebakaran di masjid Joplin. 

Kebakaran di masjid Joplin ini pun mengundang kesedihan dan kemarahan dari para umat agama lain. Bagi warga setempat, ancaman bagi umat masjid pimpinan Imam Lahmuddin ini juga ancaman bersama sebagai warga negara Amerika.

"Ini adalah ancaman bagi kumpulan warga yang taat hukum. Penduduk Joplin harus berbagi kemarahan yang sama atas peristiwa ini," kata Paul Teverow, pemuka Yahudi dari United Hebrew Congregation kepada Joplin Globe. Teverow, yang juga diundang Lahmuddin dalam acara berbuka puasa bersama, mengaku hubungan masjid itu dan sinagognya sudah berjalan harmonis.

Jill Michel, pendeta gereja South Joplin Christian Church (Disciples of Christ), juga menyatakan kesedihan dan rasa marah bila kebakaran di masjid itu akibat sabotase. "Mereka sudah seperti saudara sendiri. Kesedihan mereka ikut kami rasakan. Itulah yang diajarkan di agama kami," kata Michel. Kalangan rohaniwan Kristen setempat juga dikabarkan berkoordinasi untuk menggalang dana membantu pemugaran kembali masjid yang terbakar.  (eh)


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
rada_edan
14/08/2012
MATIUS 10:34 JANGAN KAMU MENYANGKA, BAHWA AKU DATANG UTK MEMBAWA DAMAI DIATAS BUMI, AKU DATANG BUKAN UTK MEMBAWA DAMAI, MELAINKAN PEDANG. agama kasih???
Balas   • Laporkan
safiudin
08/08/2012
ya Allah kuatkanlah agama islam ini,berilah ketabahan,kesabaran dan jalan keluar bagi hamba2Mu yg di beri cobaan olehMu,Amin....
Balas   • Laporkan
mmx771
08/08/2012
cuma di indonesia yang toleransi beragama nya bagus. kalo bom itu aku pikir cuma orang islam sesat. Damn I love Indonesia
Balas   • Laporkan
apa_aja | 08/08/2012 | Laporkan
@peyekz sama saja di as juga butuh puluhan tahun ijin mesjid emang gampang sbg minoritas krn pasti ada penolakan.
peyekz | 08/08/2012 | Laporkan
kata siapa??? gereja dibakar,pembangunan gereja2 dipersulit,ketika puasa ada beberapa daerah yang melarang warung buka...mana toleransinya???
dkustiawan
08/08/2012
SubhanAllah... toleransi beragama yg sangat tinggi. semoga tdk ada maksud terselubung dr semua itu.. amin.
Balas   • Laporkan
peyekz | 08/08/2012 | Laporkan
itulah perbedaannya antara negara maju dengan negara primitif...negara maju perbedaan bukanlah sesuatu yang mutlak diperdebatkan, perbedaan sangat dihargai. negara primitif seperti indonesia perbedaan SARA masih diperdebatkan dan belum dihargai, menjadi t


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru