FOKUS

Berburu Minyak Hingga Venezuela

Kondisi paceklik energi membuat Pertamina terus berburu minyak.

ddd
Jum'at, 22 Juni 2012, 22:23 Hadi Suprapto, Alfin Tofler
Kondisi paceklik energi membuat Pertamina terus berburu minyak hingga ke luar negeri..
Kondisi paceklik energi membuat Pertamina terus berburu minyak hingga ke luar negeri.. (Pertamina)

VIVAnews - Akhir pekan ini, PT Pertamina mengumumkan membeli 32 persen saham Petrodelta, S.A, Venezuela, milik Harvest Natural Resources Inc. Transaksi dengan perusahaan minyak yang tercatat di bursa saham New York itu diperkirakan bakal menambah cadangan minyak Pertamina berlipat-lipat.

Petrodelta  merupakan cicit perusahaan milik BUMN pemerintah Venezuela, Petroleos de Venezuela SA (PDVSA), yang memegang hak konsesi dari pemerintah Venezuela hingga 2027 pada lapangan Uracoa, Bombal, Tucupita, El Salto, El Inseno, dan Temblador. Keseluruhan cakupan wilayah ini mencapai 1.000 kilometer per segi.

Lapangan-lapangan Petrodelta mengandung cadangan 486 juta barel ekuivalen minyak bumi (mmboe). "Bandingkan dengan Blok Cepu yang hanya 250 juta mmboe," kata Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina, Mochamad Harun, kepada VIVAnews, Jumat 22 Juni 2012.

Tak cuma di Venezuela, Pertamina juga mengincar aset-aset minyak di Kazakhstan dengan total produksi 100 ribu barel per hari. Pertamina akan menggandeng perusahaan migas asal Korea Selatan, Korea National Oil Corporation (KNOC) kerjasama perusahaan hulu dan hilir migas di Kazakhstan.

Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan, menjelaskan kunjungannya ke Kazakhstan pada Mei lalu menghasilkan pembentukan komite kerja antara Pertamina dengan perusahaan minyak Kazakhstan, Kazmunaigaz. "Ini guna melihat aset-aset mana saja yang diinginkan Pertamina, apakah visible atau tidak," kata Karen, 24 Mei.

Pertamina telah mengidentifikasi tiga aset di negara yang dulu tergabung dalam Uni Soviet ini. Namun, jumlah aset yang diincar Pertamina bisa saja lebih karena Pertamina menginginkan total aset yang diakusisi memiliki produksi 100 ribu barel per hari.

Jika Pertamina tak masuk ke negara terluas ke-9 di dunia ini, kata Karen, maka akan rugi. Hal ini karena penduduk Kazakhstan hanya 17 juta orang dengan kebutuhan minyak hanya 250 ribu barel. Sisa produksi 1,25 juta barel diekspor. "Apalagi negeri ini akan meningkatkan produksi minyaknya hingga 2,5 juta barel pada 2016," kata Karen.

Direktur Hulu Pertamina, Muhammad Husein, menjelaskan bahwa Pertamina terus berburu ke sejumlah negara untuk menambah produksi minyak sebesar 28 ribu barel per hari. "Ini tugas saya dalam tahun ini," katanya, beberapa waktu lalu.

Dalam beberapa bulan terakhir, Pertamina memang dikabarkan getol menjalin kerjasama dengan sejumlah perusahaan di Kazakhstan, Nigeria, Aljazair dan Irak. Tujuannya satu, menambah produksi minyak yang di Indonesia terus merosot.

Dalam satu kesempatan, Karen pernah mengatakan, ekspansi bisnisnya tak lepas dari kondisi paceklik energi. Bagaimana tidak, produksi minyak siap jual atau lifting Indonesia per April hanya 867.553 barel per hari, jauh di bawah target lifting dalam APBN-P 2012 sebesar 930 ribu bph.

Karena itu, Pertamina sebagai perusahaan penyedia energi dituntut untuk bisa terus memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat. “Mau tidak mau, kami harus berubah,” kata Karen.

Selain itu, Pertamina juga mengincar jadi perusahaan energi kelas dunia yang sudah dimulai sejak 2008. Target pada lima tahun pertama, Pertamina bisa mengalahkan Chevron yang saat ini menduduki posisi nomor satu dalam urutan penghasil minyak terbesar di Indonesia dengan produksi 350 ribu barel ekuivalen minyak per hari (mboepd). Karena itu, Pertamina terus menggenjot produksi minyaknya sehingga meningkat dari 490 mboepd jadi 517 mboepd.

Pada lima tahun kedua, Pertamina yakin bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan minyak terkemuka di Asia tenggara, seperti Petronas dan Saudi Aramco. Di tahap ini, Pertamina tak lagi membangun fondasi, melainkan keunggulan operasional. Lalu, pada 15 tahun kemudian, Pertamina akan menjadi perusahaan kelas dunia. “Setidaknya, kami bisa masuk 15 besar dunia,” kata Karen. Pada posisi ini, Pertamina akan sejajar dengan Statoil.

Sebagai gambaran, pada 2015 nanti, pendapatan Pertamina akan menjadi Rp705 triliun dengan laba bersih Rp34 triliun. Indikator lainnya, cadangan minyak naik 2,2 miliar barel dengan produksi 776 juta barel minyak. Sedangkan proyeksi tahun ini, produksi minyak hanya 470 juta barel.

Untuk mendukung target itu, Pertamina akan menjadikan sektor hulu sebagai titik fokus strategi. “Kami melihat pentingnya upaya menjamin sumber energi demi kelangsungan bisnis dan kepentingan nasional,” tutur Karen.


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
r_ton_navi
23/06/2012
menurut data opec, venezuela mempunyai cadangan minyak terbukti 296.50 milliar barrel, tapi sayang belum banyak tergarap, disitulah pertamina harus masuk, guna meningkatkan cadangan minyak kita ke depanny
Balas   • Laporkan
flanzka | 23/06/2012 | Laporkan
Kan harus masuk melalui BUMN nya Venezuela, namanya juga di ladang orang lain, ya harus ijin dan ikut aturannya dong Bang. Lagian langkah yang diambil juga sudah sangat benar koq.
wahyuary
22/06/2012
mau bagaimanapun cadangan minyak dunia lambat laun akan habis, seharusnya pertamina juga mencoba misi lain dengan membangun sesuatu yg tidak dimanfaatkan menjadi yg bermanfaat, yg intinya membuat cadangan minyak sendiri tanpa harus menguras inti bumi.
Balas   • Laporkan
flanzka | 23/06/2012 | Laporkan
kalimat terakhir, sangat ambigu :(
mybest
22/06/2012
wa.ww.. sekarang bukan Arab lagi raja minyak, tapi Venezuela rajanya.. bye..bye UAE..
Balas   • Laporkan
flanzka | 23/06/2012 | Laporkan
UEA Bang, bukan UAE


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru