FOKUS

Kontroversi Kampanye Pemakaian Kondom Menkes

Anjuran pemakaian kondom hanya untuk kalangan berisiko. Sebab penyakit seksual kian luas.

ddd
Rabu, 20 Juni 2012, 22:32 Elin Yunita Kristanti, Aries Setiawan, Suryanta Bakti Susila
Kampanye penggunaan kondom Menkes Nafsiah jadi kontroversi
Kampanye penggunaan kondom Menkes Nafsiah jadi kontroversi (www.presidensby.info/ Haryanto)

VIVAnews – Ini soal kondom. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengkampanyekan pemakaian kondom bagi kalangan bersiko. Anjuran itu menjadi penting sebab angka penularan penyakit seksual di kalangan berisiko itu sangat tinggi. Kampanye ini bukan untuk kalangan umum. Cuma untuk mereka yang bersiko. Seperti wanita penghibur dan para pelangan mereka.

Tapi sejumlah kalangan mencemaskan program ini. Hingga Rabu, 20 Juni 2012, kontroversi soal ini masih merebak. Maksudnya baik tapi bisa berakibat fatal. Seperti  merestui perzinahan. Begitu kecemasan mereka yang menolak. 

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengklarifikasi soal kecemasan itu. Tak hanya lewat video resmi yang sengaja diunggah di YouTube, klarifikasi juga langsung kepada para wartawan.  Nafsiah menjelaskan bahwa seks berisiko di Indonesia terjadi pada semua umur, suami istri, atau di luar hubungan pernikahan. “Yang kami maksud dengan seks berisiko adalah seks dengan risiko penularan penyakit atau risiko kehamilan yang tidak direncanakan,” kata Nafsiah di kantornya, Rabu 20 Juni 2012.

Hubungan seks berisiko juga terjadi bahkan di kalangan remaja. "Mau nggak mau harus kita hadapi itu. Mengutip data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), kata dia, tahun 2010, sebanyak 2,3 juta remaja melakukan aborsi. “Berarti anak-anak kita, adik-adik kita melakukan hubungan seks berisiko.”

Oleh karenanya, para remaja berhak mendapatkan informasi, pendidikan agama yang lebih baik, pendidikan moral, juga  diberi pengertian tentang obat-obatan terlarang yang merangsang nafsu seks, termasuk miras, dan sebagainya. “Menurut pendapat saya, mereka berhak mendapat informasi maupun layanan yang sesuai kebutuhannya. Kita tidak boleh tutup mata bahwa kehamilan di luar pernikahan bertambah,” kata Nafsiah.

Soal pemberian kondom, Nafsiah menegaskan, ia tidak pernah menyatakan akan menggalakkan penggunaan kondom bagi kalangan umum, apalagi remaja dan siswa. Apalagi bagi-bagi alat kontrasepsi itu. “Kondom itu hanya alat bodoh kok. Kami mengimbau yang hubungan seks biresiko gunakan kondom,” katanya.

Dia lalu menunjukkan data, penularan HIV naik terus meskipun kampanye kondom terus gencar di kalangan seks berisiko. Bersamaan dengan penyakit menular yang lain seperti  gonorrhea dan chlamydia. Berarti seks berisiko jalan terus walaupun kampanye penggunaan kondom sudah gencar.

Nafsiah minta para pengkritiknya mencermati realitas itu dan menghadapinya bersama. Daripada menyerang kampanye penggunaan kondom bagi kalangan berisiko, lebih baik energi dicurahkan menghadapi perangsang nafsu seksual. “Kita harus melawan mereka yang membujuk-bujuk generasi muda kita membeli narkoba, yang merangsang nafsu seks itu, dan kita harus secara positif mengatakan bersama, pendidikan agama harus ditingkatkan,” ujar perempuan 72 tahun itu.

Mantan Sekretaris Nasional Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia (KPAI) itu menegaskan, gerakan agar generasi muda tidak terjerumus dalam hubungan seks beresiko menjadi prioritas. Caranya, menggalakkan pendidikan agama, moral, kesehatan reproduksi, dan bahaya narkoba. Pelayanan kondom bukan first priority, tapi agar  mereka tidak melakukan hubungan seks berisiko. Kalau toh mereka sudah terlanjur melakukan, diberikan konseling agar mengubah perilaku.

Legalkan zina?

Salah satu pengkritik program Bu Menkes datang dari Dewan Perwakilan Rakyat. Anggota Komisi IX yang membidangi masalah kesehatan, Herlini Amran mengatakan, Fraksi PKS menyesalkan kampanye kondom itu. Alasannya, itu menandakan pemerintah melegalkan seks bebas alias zina.

“Justru dengan itu pemerintah melegalkan seks bebas atau zina dengan alasan mensosialisasikan penggunaan kondom,” kata Herlini Rabu 20 Juni 2012.

Dia berpendapat, hal terpenting yang justru harus dilakukan Kementerian Kesehatan adalah mendorong penyusunan regulasi tentang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di seluruh daerah, serta penyuluhan penggunaan kondom di berbagai lokasi.  “Terutama lokasi yang berisiko terjadinya penularan seperti kafe, lokalisasi, lembaga pemasyarakatan dan tempat kerja di lepas pantai, pertambangan, dan kawasan hutan," kata dia.

Jika salah satu alasan kampanye kondom adalah untuk menurunkan angka aborsi pada 2,3 juta remaja setiap tahunnya, Herlini berpendapat, kunci menurunkan angka aborsi remaja itu bisa dilakukan dengan cara lain. Misalnya, sosialisasi program kesehatan reproduksi kepada remaja dan mengampanyekan larangan seks bebas di luar nikah. Pemerintah  juga harus dapat bekerjasama lintas sektor berbagai lembaga pemerintah seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, dan BKKBN.

"Walau bagaimana pun peran utama agama menjadi hal yang tidak bisa diabaikan, sehingga masalah ini dapat terselesaikan dari hulu sampai hilirnya," kata anggota DPR dari daerah pemilihan Kepulauan Riau ini.

Pendapat MUI

Penentangan terhadap kampanye penggunaan kondom bagi kalangan umum maupun pelaku seks berisiko juga datang dari Majelis Ulama Indonesia.

Menurut MUI, kondom hanya boleh digunakan pasangan suami istri sebagai alat kontrasepsi atau pencegah kehamilan, karena memang sudah menjadi program pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. “Tapi kalau sosialisasi penggunaan kondom untuk umum, pendapat majelis ulama masih seperti beberapa tahun lalu, kami tidak setuju,” ujar Ketua MUI Amidhan kepada VIVAnews, Rabu 20 Juni 2012.

Kata Amidhan, ulama melihat sosialisasi kondom ini lebih banyak sisi buruknya. Alasannya, jika penggunaan kondom diberlakukan untuk umum, bisa disalahgunakan oleh mereka yang bukan suami-istri. “Kondom bisa digunakan untuk berselingkuh, zina. Apalagi kalau bagi kalangan remaja. Karena ada kondom, itu bisa mendorong mereka untuk nge-seks. Nah itu yang sangat bahaya,” katanya.

Disisi lain, jika maksud Menkes Nafsiah Mboi adalah untuk mencegah tingginya angka aborsi dan HIV/AIDS, penggunaan kondom bukan solusi. Aborsi adalah perbuatan berdosa dan dilarang oleh agama apapun, juga melanggar hukum. Jadi penegakan hukum bisa dilakukan. “Karena itu tindakan pidana, membunuh dan dosa besar,” imbuhnya.

Begitu juga dengan penularan virus HIV. Selain melalui hubungan seks, penularan virus HIV juga bisa terjadi  akibat narkoba. Untuk narkoba sendiri, MUI sudah memfatwakan bahwa narkoba itu haram. “Gonta ganti pasangan, apalagi selingkuhan itu juga haram hukumnya,” ucapnya.

Menurutnya, aturan hukum yang berlaku dan fatwa MUI itulah yang harus disosialisasi dan digalakkan oleh pemerintah. Bukan menyororkan kondom sebagai solusi. “Kalau mudharatnya lebih banyak, itu kan berarti dilarang hukumnya,”tegasnya.

Amidhan berpendapat, untuk mencegah fenomena seks bebas di kalangan remaja, bisa dicegah oleh pemerintah dengan mensosialisasikan akhlak mulia.


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
ricuh
24/06/2012
ga tau yg ga skola sapa coba. itu urusan seks d luar nikah kan bukan urusan menkes. menkes cuma menghimbau bagi yg melanggar (yg mnrt mereka zina) kalo bisa pakai kondom. itu hal yg baik. nah soal zina menzina biar yg ngurus org yg berkewajiban ngurus
Balas   • Laporkan
ricuh | 24/06/2012 | Laporkan
yg ngoceh ga pada topiknya itu mala keliatan begonya. masa urusan seks luar nikah menkes yg urus. bego
holland66
21/06/2012
JANGAN TERLALU NAIF LAH, KITA LIAT JAMAN SEKARANG YG MELAKUKAN HUB SEX BELUM TENTU SUAMI ISTRI. KITA NGGAK ISA MENGAWASI SATU PERSATU ORANG2 ITU. JADI KAMPANYE PENGGUNAAN KONDOM UDAH BENER, SEPERTI JUGA YG DILAKUKAN NEGARA2 MAJU.
Balas   • Laporkan
the.ui.chan
21/06/2012
sy mendukung ibu mentri tujuan Mulia begini masih di di protes itu untuk kesehatan semua dan penyebaran penyakit kalo mau protes berantas aja tempat portitusi bukan cari muka dengan alasan-alasan yg di paksakan lihatlah kenyataan bung
Balas   • Laporkan
m.t.hidayat3 | 21/06/2012 | Laporkan
gw setuju dg pembrantasan prostitusi!!
berpikiran
21/06/2012
Takkan ada bagi2 kondom bila remaja Indonesia TIDAK berperilaku seks bebas. Pertanyaanya kemana pemuka agama sehingga moral remaja Indonesia rendah dan berperilaku seks bebas??
Balas   • Laporkan
m.t.hidayat3 | 21/06/2012 | Laporkan
kok pemuka agama?? ente kmn emang?? nonton?? menikmati??
jimtarget
21/06/2012
wew.....ibu nafsiah mantan psk ya buu...
Balas   • Laporkan
akukau
21/06/2012
buat peraturan baru..yang ngesex diluar nikah hukum 8 tahun
Balas   • Laporkan
dian.cipang
21/06/2012
kalau gwe punya ank cewe ataupun cowo,gwe akn ajarin cara sex yg benar n ga ampe hamil.ya kita ga mgkin dong bisa mengawasi mereka terus ampe 24 jm.jdinya mendingan kita kasih tau aja carannya.bener ga bro
Balas   • Laporkan
m.t.hidayat3 | 21/06/2012 | Laporkan
cacad
dian.cipang
21/06/2012
ini bukan mslh legal kan zinah atau apapun namanya...ini dah menyangkut norma agama yg udah ga di punyai anak2 kita sekarng ini.peran agama dah ga2l menjalankan fungsinya.tinggal kita bisa gak menyikapinya.bkn malah mengomentari yg ga ga.
Balas   • Laporkan
m.t.hidayat3 | 21/06/2012 | Laporkan
kita semua yg gagal!!
dian.cipang
21/06/2012
gwe setuju dgn bu menteri..biarkan sex itu dilakukan n wajar aja asal jgn ampe hamil.kasihan ibu ma anaknya dgn adanya kondom bisa mencegah kehamilan diluar nikah.percuma ank2 muda kita larang atau jga kita cegah mereka pasti akn melakukannya.
Balas   • Laporkan
m.t.hidayat3 | 21/06/2012 | Laporkan
parah..
RESIKO BAGI YANG MELANGGAR ATURAN ADALAH WAJAR, TAPI MEMINIMALKAN RESIKO BAGI YANG MELANGGAR ATURAN ADALAH AWAL DARI KEHANCURAN
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru