Bila BUMN Ramai-ramai Ekspansi ke Luar Negeri
Stadion sepakbola di Qatar. Salah satu proyek bisnis BUMN.
Kementerian BUMN
VIVAnews - Di tengah krisis perekonomian dunia yang mengguncang sendi-sendi ekonomi hampir sebagian besar negara, Indonesia justru gencar mendorong perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melebarkan sayap ke luar negeri.
Kabar terakhir, sebanyak empat perusahaan pelat merah telah mengunjungi negara bekas perang, Irak, untuk menjajaki berbagai bentuk kerjasama. Keempat BUMN tersebut adalah PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Pertamina (Persero), PT Wijaya Karya Tbk, dan PT Adhi Karya Tbk.
Tergabung dalam Indonesia Incorporated, salah satu perwakilan BUMN yang mengunjungi Irak, Kepala Divisi BBM dan Gas PLN, Suryadi Mardjoeki menyatakan, PLN yakin dapat berkontribusi untuk pembangunan di Irak yang dinilai sangat menjanjikan.
"Indonesia Incorporated sedang menjajaki untuk dapat berkontribusi dalam pembangunan Irak," kata Suryadi dalam pesan singkatnya kepada VIVAnews, Senin 18 Juni 2012.
Suryadi mengakui, PLN memang sedang mengincar sejumlah proyek yang sesuai dengan kompetensi perusahaan, yaitu dalam operasi dan perawatan pembangkit listrik. "Pihak Irak inginnya bekerja sama dengan Indonesia dalam bidang kelistrikan," paparnya.
Walau melihat adanya peluang bisnis dan kerjasama di luar negeri, PLN mengakui kunjungan bisnis yang dibuat Indonesia Incorporated tersebut baru sebatas penjajakan kerjasama. "Komando ada di Dirjen Migas, Evita Legowo," tegasnya.
***
Langkah BUMN untuk go global, atau minimal go regional, sebetulnya sudah bergaung sejak beberapa tahun terakhir. Pemerintah setidaknya sudah menggadang sejumlah perusahaan potensial untuk berkompetisi di kancah persaingan yang lebih besar.
Jika melihat dari pencatatan saham perusahaan pelat merah di pasar modal dunia, saat ini baru tercatat dua BUMN yang melakukan hal tersebut. Kedua BUMN tersebut adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang mencatatkan saham di New York Stock Exchange (NYSE), London Stock Exchange (LSE) dan Tokyo Stock Exchange.
Satu BUMN lainnya adalah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, PT Aneka Tambang Tbk yang mencatatkan saham di bursa efek Australia (ASX).
Langkah kedua perusahaan pelat merah ini, tampaknya ingin diikuti oleh sejumlah BUMN lain. Walau tak bermaksud mencatatkan saham di bursa saham luar negeri, BUMN potensial ini berkeinginan mengincar sejumlah proyek-proyek di sejumlah negara.
Kementerian BUMN selaku pembina dari perusahaan pemerintah sebelumnya telah menyiapkan tiga BUMN untuk menjajaki peluang bisnis di Myanmar. Selain PT Wijaya Karya Tbk dan Pertamina, BUMN telah menyiapkan satu perusahaan lain yaitu PT Bank Negara Indonesia Tbk.
Tugas mereka jelas, ketiga BUMN itu diimbau untuk mengamati sekaligus menjajaki peluang bisnis yang bisa dimasuki perusahaan pemerintah. Saat ini, ketiga BUMN itu telah menempatkan pegawai di Myanmar. "Pelajari usaha apa yang baik di sana," kata Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan.
BUMN yang sudah berkompetisi di persaingan bisnis global sebetulnya relatif sudah banyak. Sebut saja, PT Adhi Karya Tbk yang tengah menggarap proyek di Timur Tengah. Beberapa proyek Adhi Karya di Timur Tengah antara lain pembangunan rumah susun hak milik (rusunami) di Libya, pembangunan perumahan di Saudi Arabia, dan pengembangan kawasan tambang di Irak.
Mengecap banyak pengalaman dari bisnis di kawasan gurun tersebut, Adhi Karya kini mengalihkan sasarannya ke proyek-proyek di Asia Tenggara. Perseroan kini tengah melirik proyek konstruksi di Brunei Darussalam, Vietnam, Filipina, dan negara ASEAN lainnya.
Untuk bisnisnya dari luar negeri itu, Adhi mematok pendapatan minimal Rp500 miliar. Proyek di bawah nilai tersebut dianggap kurang menguntungkan bagi perusahaan.
Hal serupa juga dilakukan oleh perusahaan kontruksi lain, PT Wijaya Karya Tbk. Perusahaan ini tengah fokus mengincar proyek infrastruktur bernilai triliunan rupiah di kawasan Afrika dan Timur Tengah. Salah satunya adalah proyek prestisius adalah pembangunan stadion yang akan digunakan untuk perhelatan Piala Dunia 2022 di Qatar.
Ekspansi bisnis keluar negeri juga digadang oleh salah satu perusahaan pelat merah terbesar, PT Pertamina. Perusahaan inilah yang diharapkan bisa membawa nama Indonesia ke pentas persaingan bisnis global mengalahkan bekas muridnya, Petronas.
Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan minyak ini dikabarkan getol menjalin kerjasama dengan sejumlah perusahaan di Kazakhstan, Nigeria, Aljazair dan Irak. Tujuannya satu, menambah produksi minyak sebesar 28 ribu barel per hari.
"Penugasan dari perseroan ke saya tahun ini sekitar 28.000 barel minimal," kata Direktur Hulu Pertamina, Muhammad Husein.
Hussein menjelaskan hingga saat ini belum ada satupun ladang minyak di luar negeri yang telah diakusisi Pertamina, namun Pertamina terus mengincar ladang-ladang minyak di berbagai negara diantaranya Aljazair, Kazakhstan dan Irak.
Pertamina, lanjutnya, bisa mengakusisi salah satu saham ataupun ikut bersama-sama dengan perusahaan migas lainnya untuk ikut tender di suatu negara. Namun, Pertamina mengincar blok-blok migas yang telah berproduksi dibandingkan untuk investasi eksplorasi. Alasannya, Pertamina tinggal membeli saham salah satu perusahaan migas di blok tersebut.
Selain beberapa BUMN tadi, masih banyak BUMN yang telah maupun sedang mengembangkan sayap bisnisnya ke luar negeri. Tercatat nama-nama seperti PT Bank Mandiri Tbk, PT Pupuk Sriwijaya, dan PT Semen Gresik Tbk.
***
Keberadaan BUMN dalam percaturan bisnis global sebetulnya tak bisa dianggap sebelah mata. Majalah ekonomi terkemuka, Forbes, dalam laporan Forbes Global 2000, mencatat ada 10 perusahaan Indonesia yang layak masuk kategori perusahaan terbesar di dunia. Sebanyak 6 dari 10 perusahaan itu adalah BUMN.
Dua BUMN yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Bank Mandiri Tbk menempati dua posisi teratas. Sementara tiga BUMN lain yaitu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk menempati urutan 5,6, dan 7 di Indonesia. PT Semen Gresik Tbk menempati posisi kesembilan.
Sekretaris Kementerian BUMN, Wahyu Hidayat mengakui BUMN selama ini selalu diremehkan jika dibandingkan dengan swasta. "Namun ternyata tidak. Masuknya enam BUMN ini menunjukan kami tidak kalah dengan PT Unilever dan perusahaan lainnya," kata dia.
Upaya pemerintah mengusung BUMN go global memang sudah dicanangkan Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan, usai programnya membenahi BUMN Dhuafa. Bahkan mantan pemilik kelompok bisnis Jawa Pos ini mengincar target memasukan BUMN dalam daftar Fortune 500.
Deputi Bidang Usaha dan Jasa Kementerian BUMN, Parikesit Suprapto menjelaskan, BUMN telah memiliki kebijakan yang akan mengarahkan BUMN menjadi perusahaan dunia dalam empat tahapan.
Keempat tahapan tersebut adalah transformasi budaya kerja, restrukturisasi, pengembangan strategis, dan privatisasi. "Human resources merupakan pendukung untuk menuju BUMN World Class," kata Parikesit.
Pengamat BUMN, Said Didu, menilai peluang BUMN untuk masuk dalam kancah persaingan bisnis internasional memang sangat besar. Apalagi, banyak BUMN yang memiliki potensi dan kemampuan yang sebetulnya setara dengan perusahaan-perusahaan di luar negeri.
"Ada BUMN kita yang sebetulnya sudah memiliki standar internasional seperti Garuda Indonesia, Telkom, dan perbankan," ujar dia.
Namun Said mengingatkan, BUMN yang berencana masuk ke kancah internasional harus betul-betul memahami karakteristik iklim usaha dari negara tujuan. Karakteristik tersebut di antaranya regulasi dan kemampuan penguasaan teknologi.
Dalam hal regulasi, BUMN hendaknya menghindari negara-negara dengan regulasi tak jelas yang hanya akan menimbulkan kerugian bagi perusahaan.
"Banyak pengalaman kita, BUMN yang gagal berbisnis di Timur Tengah," kata Said. "Kalau mau masuk, sebaiknya membuat perusahaan patungan dengan perusahaan lokal."
Begitu pula dengan negara-negara yang memiliki regulasi sangat ketat dalam melindungi industri dalam negeri. Hal ini setidaknya dialami oleh sejumlah perbankan nasional yang kesulitan membuka operasional di China, Malaysia, dan Singapura.
Imbauan serupa disampaikan pada BUMN yang akan menyasar negara-negara dengan tingkat kemampuan teknologi yang lebih tinggi dari Indonesia. "BUMN masih sulit menembus pasar seperti Korea Selatan dan Jepang," kata Said yang pernah menjabat Sekretaris Kementerian BUMN.
Namun yang pasti, ujar Said, perusahaan milik pemerintah sudah mampu bersaing di kancah bisnis internasional. Paling tidak, Indonesia bisa menggarap pasar Asia Tenggara dan Afrika yang selama ini kurang banyak dieksplorasi. (eh)
-
Ahok: DPRD Mau Makzulkan Jokowi? Belagu Banget
-
Jokowi Rombak Besar-besaran Pejabat Eselon II DKI
-
Tanggapan Kepala Sekolah Darin Soal Dugaan Nikah Siri
-
Mahasiswi Cantik yang Bikin Edinson Cavani Cerai
-
DKI Tawarkan Investor Bangun Pedestrian Layang di Sudirman
-
Anak Gadisnya Dicari KPK, Ibunda DM Angkat Bicara
- Info Momentum
- Misteri Pembunuhan Presiden Kennedy Dengan Proyek UFO Rahasia
- Kawah Patomski, Kawah Misterius Bentukan Alien di Tengah Hutan Rusia
- "The Count" Penipu Ulung Paling Lihai di Dunia
- Hasta Brata, Misteri Ilmu Kepemimpinan Jawa
- Beredar Foto Seksi Mirip Sefty Sanustika Istri Fathanah
- Misteri Suara Denting Lonceng Di Komplek Pemakaman Menteng Pulo
- FOTO: Cantiknya Rosnita Putri Wanita Teman Dekat Arya Wiguna



