FOKUS

Wawancara Khusus

Tere: "Saya Orangnya Lurus"

"Saat reformasi, saya di bangku kuliah. Sepuluh tahun kemudian, saya di DPR."

ddd
Kamis, 7 Juni 2012, 10:12 Anggi Kusumadewi, Aries Setiawan
Tere
Tere (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

VIVAnews – Theresia Ebenna Ezeria Pardede (Tere) sudah mantap mundur total dari dunia politik. Pilihan itu ia kejewantahkan pekan lalu dengan mengumumkan pengunduran dirinya dari keanggotaan DPR dan Partai Demokrat.

Spekulasi soal pengunduran diri Tere pun merebak meski ia telah menampiknya dalam konferensi pers khusus. Kepada VIVAnews, Tere membeberkan panjang lebar kisah di balik pilihan finalnya untuk mundur itu. Ia juga bercerita tentang awal ketertarikannya di dunia politik – yang sayangnya harus terhenti untuk saat ini.

Apakah Anda mundur karena kecewa dengan politik dan partai politik?
Saya kira tidak. Bagi saya, politik hanya cara untuk berkomunikasi supaya kita bisa bersama-sama mencari titik temu antarberbagai kepentingan yang kita punya. Jadi kepentingan saya dan orang lain ditemukan di tengah-tengah. Caranya seperti apa, itulah politik. Tapi kalau kita lihat lebih spesifik soal politik praktis, teori tidak bisa disinergikan di sini. Ada elemen-elemen lain yang menjadi variabel, terutama di DPR saat ini. Memang kondisi saat ini belum seperti yang saya harapkan.

Saya juga sebagai individu mengkritisi sistem anggaran di lembaga legislatif. Soal itu masih banyak yang perlu kita mutakhirkan. Jangan sampai kita yang sudah dianggap sebagai negara maju di Asia, tapi sistem penganggarannya tidak mutakhir. Saya tidak mau menyalahkan pihak mana pun. Saya bicara ini hanya dalam konteks untuk kemajuan negeri.

Saya hanya menyayangkan ketidakmampuan saya karena berbagai problem personal yang saya punya. Ini ditambah sistem demokrasi kita belum cukup mutakhir untuk bisa didongkrak dengan pemikiran progresif. Saya sendiri merasa kelelahan dengan permasalahan-permasalahan yang saya alami. Saya lelah. Oleh karena itu saya memilih untuk mengundurkan diri daripada di DPR saya tidak bisa fokus dengan pekerjaan saya.

Sebetulnya Anda mengharapkan yang seperti apa dari politik?
Ketika reformasi terjadi tahun 1998, semua rakyat Indonesia pasti mengharapkan perubahan besar-besaran pada sistem ketatanegaraan kita. Apalagi saya masuk DPR setelah 10 tahun reformasi. Saya bisa dibilang anak zaman. Pada saat reformasi, saya di bangku kuliah. Lalu 10 tahun sesudahnya, saya di DPR.

Setelah 10 tahun reformasi berjalan, sejumlah pertanyaan kritis terlontar misalnya: sejauh mana reformasi bisa dijalankan. Itu juga yang menggelitik saya untuk masuk ke politik praktis. Saat itu saya ingin berkontribusi untuk membenahi sistem politik. Jadi itulah historical background saya masuk ke dunia politik praktis.

Tapi Anda lalu menemukan antara teori politik dan praktiknya tidak sinkron?
Memang antarkeduanya ada modifikasi dan sinkronisasi. Cuma memang dalam beberapa hal saya pikir sistem ini belum siap untuk dikolaborasikan dengan pemikiran-pemikiran progresif. Tapi sudahlah, daripada sibuk menyalahkan orang lain, saya lebih baik melihat diri sendiri.

Sebagai individu, saya punya banyak keterbatasan. Saya punya masalah keluarga, dengan ibu saya, dengan ayah saya. Saya tidak mau ada konflik pribadi dengan pekerjaan saya di DPR.

Apa ada masalah juga di partai?
Saya respect pada Demokrat. Waktu memutuskan untuk terjun ke politik praktis, saya kagum dengan sosok Pak SBY yang saya hormati. Sampai saat ini saya pun menghormati beliau. Ideologi menjadi tali saya untuk masuk Demokrat.

Tapi kalau ditanyakan kenapa sekarang saya mundur dari Demokrat, itu adalah bentuk totalitas saya. Ketika masuk, ya saya masuk total. Ketika keluar, ya keluar juga sepenuhnya. Itu memang karakter saya.

Jadi bukan karena kecewa dengan partai?
Bukan. Mundurnya saya dari Demokrat adalah bentuk respons saya yang sangat rasional dan obyektif. Kalau misalnya saya mundur dari DPR tapi tidak mundur dari Demokrat, lalu apa fungsi saya di Demokrat? Jadi, saya tak punya masalah dengan Demokrat.

Apa aktivitas Anda setelah mundur dari dunia politik ini?
Saya akan merawat orang tua. Lalu karena ayah maupun almarhumah mama menginginkan saya bisa terus melanjutkan cita-cita saya, maka saya ingin melanjutkan tesis saya yang deadline-nya Juni 2012 ini. Saya kan sekarang kuliah di UI.

Apakah di masa depan Anda berminat untuk kembali ke politik praktis?
Inilah indahnya menjadi seniman, karena negeri ini semakin dahaga dengan sederet seniman negarawan. Kalau merasa terpanggil, ya ayo. Untuk ke depannya, saya belum bisa katakan karena saya berangkat dari panggilan hati.

Selama di duduk di Komisi X DPR yang salah satunya membidangi olahraga, apakah pernah ikut dalam pembahasan anggaran proyek pusat olahraga Hambalang di Sentul?
Kalau tentang pembahasan anggaran, secara umum saja. Sepengetahuan saya, semua hal selalu disampaikan secara garis besar di rapat kerja komisi. Lalu biasanya hal itu akan ditindaklanjuti dalam rapat terbatas dengan Badan Anggaran di komisi terkait. Kemudian biasanya setelah itu sudah fix dan disetujui, diteruskan dengan rapat dengan kementerian terkait untuk finalisasi penganggaran.

Tapi saya tidak punya kapasitas untuk membahas anggaran proyek Hambalang karena itu tugas Badan Anggaran. Saya tidak masuk di situ.

Proyek Hambalang ini kan disorot KPK karena diduga bermasalah, sampai-sampai nama sejumlah kader Demokrat terseret dalam kasus ini. Apa tanggapan Anda soal ini?
Saya kira semuanya harus kita telaah sesuai dengan bukti dan fakta, dan kita lihat bagaimana hasil penyelidikan pihak berwenang. Semua kan sudah ada tugasnya masing-masing. Ada KPK juga. Jadi serahkan pada KPK sebab mereka pihak yang punya otoritas. Saya sendiri juga menunggu bagaimana supremasi hukum di Indonesia berjalan baik.

Yang pasti jika dikatakan saya mundur terkait kasus, saya jawab tidak. Kalau sampai ada yang bicara begitu, siap-siap saja mendapat balasannya dari Tuhan karena itu fitnah. Saya orangnya lurus. Kalau saya katakan tidak, ya tidak. (eh)

 


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
sinjai
07/06/2012
sy menduga Tere mengalami siksaan batin dengan menyaksikan kondisi Bangsa yg kian hari kian memburuk dimana Reformasi hanya menjadi Jargon Orang2 yang mempunyai kepentingan Pribadi, 14 tahun reformasi nayaris tak ada bedanya dengan masa ORBA.
Balas   • Laporkan
aneh
07/06/2012
SAYA KIRA TERE MEMILIKI ALASAN YANG KUAT YANG LEBIH DARI ITU..SAYA CUKUP MENGERTI KENAPA ANDA MUNDUR..DENGAN SUASANA POLITIK SAAT INI..DENGAN SEMANGAT REFORMASI..TAPI KENYATAANNYA LEBIH BURUK
Balas   • Laporkan
kurangapa
07/06/2012
rambutnya doank kaleee?????????
Balas   • Laporkan
aisahana
07/06/2012
pasti ada alasan lain yang lebih kuat.. tidak seperti yang diomongkan di atas......
Balas   • Laporkan
susu
07/06/2012
saya lebih suka ketika anda menjadi penyanyi dari pada menjadi anggota dewan yang terhormat...
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru