FOKUS

Eropa Krisis, Produsen CPO Keruk Untung

Selain krisis, pelemahan nilai tukar rupiah juga mendorong keuntungan perusahaan.

ddd
Senin, 4 Juni 2012, 14:03 Syahid Latif, Sukirno
Produsen minyak sawit diuntungkan krisis di Eropa.
Produsen minyak sawit diuntungkan krisis di Eropa. (VIVAnews/Fernando Randy)

VIVAnews - Krisis ekonomi yang melanda sejumlah negara di Uni Eropa akibat belum selesainya solusi Yunani, tak selamanya membawa kabar tak sedap bagi industri nasional. Para produsen minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) justru tengah berpesta.

"Kalau krisis tidak mungkin akan menyetop pangan, mereka akan switch yang lebih murah," kata Vice President Finance PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk, Dicky Bayu Atmadja, ketika ditemui di Hotel Ritz Carlton, Pacific Palace, Kawasan SCBD, Jakarta, Senin 4 Juni 2012.

Menurut Dicky, CPO merupakan minyak nabati yang paling murah, sehingga dapat menjadi pilihan bagi perubahan pola konsumsi masyarakat Eropa. Untuk itu, Dicky optimistis, krisis yang terjadi di Eropa justru bisa menjadi peluang bagi perusahaannya.

"Itu sangat menguntungkan, ada peluang terhadap produk-produk CPO untuk meningkat," ungkapnya.

Saat ini, dengan total produksi CPO perseroan pada 2011 yang mencapai lebih dari 700 ribu ton, sebagian besar diperuntukkan bagi ekspor terutama ke India, China, dan Eropa.

Namun, dia mengakui, penjualan CPO dari perusahaan dilakukan tidak secara langsung ke negara-negara itu, tetapi melalui pialang (trader). Akibatnya, perusahaan tidak mengetahui berapa persentase peningkatan penjualan CPO ke Eropa itu.

"Mudah-mudahan meningkat, karena pola konsumsi masing-masing individu akan berubah, secara logika, ya akan naik," tegasnya.

Tak hanya faktor krisis keuangan Eropa, penjualan CPO dari produsen kelapa sawit Tanah Air juga diuntungkan dengan adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Saat ini, sebanyak 83 persen produksi CPO Sinar Mas berorientasi ekspor dengan pembayaran menggunakan dolar AS. Sisanya sebesar 17 persen dialokasikan untuk kebutuhan pasar domestik. Namun, sebagian besar tetap ditransaksikan dalam dolar AS.

"Bagi kami, sebagian besar cost adalah rupiah, jadi perusahaan dalam posisi diuntungkan," ujarnya. (art)


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru