FOKUS

Dilema Ribuan WNI di Tengah Konflik di Suriah

"Situasi di Damaskus kian mencekam. Banyak kantor perwakilan diplomatik asing yang tutup."

ddd
Jum'at, 1 Juni 2012, 22:41 Renne R.A Kawilarang, Indrani Putri, Denny Armandhanu
Demonstran di Kairo memprotes kekejaman di Kota Houla, Suriah.
Demonstran di Kairo memprotes kekejaman di Kota Houla, Suriah. (REUTERS/Mohammed Salem)

VIVAnews - Sudah setahun lebih Suriah dilanda huru-hara ketidakpuasan sebagian rakyatnya atas Presiden Bashar al-Assad beserta rezim Partai Baath, yang telah berkuasa selama lebih dari 40 tahun. Pergolakan di Suriah ini bersamaan dengan revolusi sesama negara Arab di Mesir dan Tunisia, yang telah menjatuhkan rezim yang lama berkuasa.

Berbagai media massa mancanegara rutin memberitakan bahwa ketidakpuasan rakyat dijawab dengan tembakan artileri dan senjata mesin dari para tentara dan milisi bayaran rezim Assad. Ini terjadi di kota Houla akhir pekan lalu yang menewaskan sedikitnya 108 jiwa. Pemerintah Suriah membantah sebagai pihak yang bertanggungjawab, namun sudah terlanjur menerima kecaman internasional.

Diplomat dan warga sipil Indonesia yang tengah tinggal di Suriah pun kian resah dengan situasi keamanan di negara Timur Tengah itu. Ketimbang kota-kota lain di Suriah, Ibukota Damaskus tempat mereka tinggal masih relatif aman, namun sudah mulai ada penembakan yang merenggut korban jiwa.

Keresahan itu dirasakan seorang mahasiswa asal Indonesia, Evi Fauzi Abdul Rozak. Akhir-akhir ini hampir setiap pagi dia mendengar bunyi dentuman, yang tampaknya berasal dari luar kota. "Saat olahraga pagi-pagi, kami sering mendengar suara, jeggerrr!," begitu kata Fauzi di Damaskus, saat dihubungi VIVAnews melalui sambungan telepon, 1 Juni 2012.

Fauzi, demikian dia biasa dipanggil, mengungkapkan bahwa kondisi di Damaskus dan sekitarnya tidak bisa ditebak dan semakin tidak kondusif. "Situasi di Damaskus tidak bisa diprediksi. Kadang-kadang dalam seminggu merasa aman, namun besoknya ada kejadian. Kami tidak tahu situasi ke depan," lanjut Fauzi, yang sedang menempuh kuliah jurusan ilmu hukum di Universitas Damaskus.

Tampaknya, rezim Baath berupaya agar Ibukota Damaskus tidak tertular gerakan anti pemerintah, seperti yang sudah bergelora di kota-kota lain. Tidak heran, menurut Fauzi, tidak ada pergerakan mahasiswa Suriah, terutama di Damaskus, untuk memprotes pemerintah. "Tidak seperti di Indonesia. Di sini mereka fokus ke sekolah saja," ujar Fauzi.

Dia mengaku, mendapatkan informasi yang simpang siur. Kedua pihak, baik pemerintah maupun kubu anti rezim Baath, saling menuding atas berbagai kekerasan yang terjadi. "Saya sendiri tidak bisa prediksi," kata Fauzi.

Kendati belum ada warga Indonesia yang menjadi korban kekerasan di Suriah, keamanan Fauzi dan rekan-rekan setanah air makin tidak terjamin. Apalagi sudah ada seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Damaskus yang sudah menjadi korban.

Dia adalah seorang warga Suriah bernama Abdul Rozak. Bekerja di KBRI sebagai seorang supir, Abdul menjadi korban penembakan misterius.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Michael Tene, mengungkapkan bahwa penembakan terjadi pada Rabu 30 Mei lalu. Abdul sedang berada di suatu bengkel di Damaskus untuk mengambil kendaraan dinas KBRI yang selesai diperbaiki.

"Saat itu juga terjadi penembakan ke arah bengkel. Abdul Rozak tewas tertembus timah panas, sementara pemilik bengkel terluka," ujar Tene setelah menerima laporan dari KBRI Damaskus.
   
Fauzi mengaku tidak menyangka bahwa sudah ada staf KBRI yang tewas. "Saya kira dia tidak dalam posisi yang salah, hanya ingin ambil mobil kedutaan," ujar mahasiswa asal Bogor itu.

Sebagai Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia di Suriah, Fauzi pantas cemas atas nasib rekan-rekan setanah air yang sedang bekerja maupun menimba ilmu di sana. Menurut dia, rata-rata mahasiswa Indonesia tinggal di pusat kota Damaskus, tidak ada yang tinggal di luar kota. "Kami diimbau untuk tidak mendekati wilayah konflik," ujar Fauzi.

Kampus tempat dia belajar pun sudah mengeluarkan imbauan untuk berhati-hati, kendati proses belajar mengajar tetap berangsung.

Duta Besar Indonesia untuk Suriah, Wahib Abdul Jawad, mengungkapkan bahwa ada lima daerah rawan keamanan di Suriah. Wilayah itu di Daraa, Homs, Hamaa, Idlib, dan pinggir Damaskus. 

"Ibukota relatif aman. Aparat keamanan memang mengusahakan konflik tidak masuk ke Ibukota, walaupun sudah terjadi di sekitar Damaskus," ujar Wahib di Damaskus saat dihubungi VIVAnews melalui sambungan telepon, 1 Juni 2012.

Namun, Wahib juga mengaku situasi di Damaskus pun kini kian mencekam. Sudah banyak kantor perwakilan diplomatik asing di Damaskus yang sudah tutup. "Ada 37 Kedubes asing di Damaskus. Sebanyak 21 sudah tutup, sedangkan KBRI adalah satu Kedubes yang masih buka," tutur Wahib.

Intensifkan Evakuasi

Dia juga mengungkapkan ada beberapa WNI yang minta dipulangkan ke tanah air. KBRI mengandalkan tenaga lokal untuk menjadi koordinator di daerah-daerah untuk mengantarkan para WNI ke Damaskus. Pasalnya, "Warga asing terlalu riskan untuk pergi ke daerah," ungkap Wahib.

Maka, KBRI sudah menyiapkan evakuasi bagi para WNI yang masih ada di Suriah. Menurut Kemlu, proses evakuasi sebenarnya sudah dilakukan bertahap sejak Januari lalu. Namun, bila situasi keamanan di Suriah kian buruk, pemulangan WNI ke tanah air akan dibuat lebih intensif.

Dubes Wahib mengungkapkan bahwa, sepanjang perbatasan Suriah tidak ditutup, tujuan evakuasi terdekat adalah Lebanon melalui transportasi darat maupun udara. "Selain ke Lebanon juga bisa ke ibukota Yordania, Amman," kata Wahib. 

Namun, dia juga mengungkapkan bahwa kini tinggal dua maskapai komersil yang beroperasi di Suriah, yaitu Emirates dan Etihad. Bukan tidak mungkin kedua maskapai asal Uni Emirat Arab itu akan berhenti operasi bila situasi keamanan di Suriah memburuk. "Jika demikian, maka kami ambil jalur darat."

Masalahnya, untuk evakuasi ini, para WNI menemui kendala. Fauzi, misalnya, kini harus menghadapi dilema. Satu sisi dia khawatir akan keamanan yang tidak menentu, namun dalam waktu dekat kampusnya akan menyelenggarakan ujian. Kewajiban menyelesaikan studi tidak bisa ditinggalkan, karena kegiatan belajar mengajar di kampus hingga awal Juni ini belum dihentikan. 

"Kebanyakan mahasiswa pilih tinggal. Kalaupun mahasiswa bisa pulang untuk evakuasi, apakah ada jaminan balik lagi atau tidak? Ketika ditanyakan ke pihak universitas, mereka bilang situasi masih bisa diatasi," kata Fauzi.

Sebagai pengurus PPI, Fauzi berkomitmen memperhatikan nasib teman-temannya sehingga dia menolak segera dipulangkan. "Jika dievakuasi, saya adalah orang yang paling terakhir, saya punya tanggung jawab pada teman-teman," ujar Fauzi.

Dubes Wahib pun merasa kesulitan memulangkan semua WNI dari Suriah. Pasalnya ada beberapa WNI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga tidak mendapat izin dari majikan untuk pulang.
 
"Mereka rata-rata tinggal dengan majikan, yang kadang walaupun sudah ditawarkan kompensasi belum tentu mengizinkan. Besar kompensasinya tergantung, melihat berapa lama mereka ditinggal pembantunya. Besaran kompensasi per bulan bisa US$100," kata Wahib.
 
Dia mengungkapkan jumlah WNI di Suriah cukup banyak, yaitu 12.500 orang. Mayoritas ada di Damaskus dan sudah ada sebagian yang pulang. Kini jumlah pelajar ada 111 orang dan staf KBRI 40 orang.


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru