Tingkat Penetrasi Bank Rendah, Apa Sebabnya?
Karena bank cuma konsentrasi di kota besar. Soal retail lokal lebih bagus dari asing.
ilustrasi rupiah
VIVAnews - Ekonomi membaik, pendapatan perkapita meningkat dan jumlah tabungan meningkat. Soal tabungan itulah yang disurvei Nielsen Indonesia. Hasilnya diumumkan Selasa, 22 Mei 2012. Survei itu menemukan bahwa semenjak tahun 2008, tingkat kepemilikan rekening di bank terus meningkat.
Sepanjang 4 tahun belakangan kepemilikan rekening tabungan naik sebesar 32 persen. Kuartal pertama tahun 2012 sejumlah 9,8 juta konsumen. Meningkat memang, tapi jumlah itu terhitung masih rendah. Mestinya bisa lebih tinggi lagi dari jumlah itu.
Director for Financial Services Nielsen Indonesia Dena Firmayuansyah mengatakan bahwa dari survei itu diketahui bahwa satu dari lima konsumen di 14 kota dan wilayah di Indonesia memiliki tabungan. Kota yang disurvei itu ada sembilan. Empat di luar Jawa dan lima di Pulau Jawa. Selain itu ada lima wilayah di pulau Jawa yang ikut disurvei. Secara umum tingkat penetrasi tabungan terhadap jumlah penduduk sangat rendah. Kecuali empat kota besar di Pulau Jawa.
Yogyakarta memiliki penetrasi tertinggi yaitu 40 persen konsumen mengatakan mereka memiliki tabungan. Diikuti oleh sepertiga konsumen di Jakarta (35 persen), Surabaya (31 persen), dan Semarang (33 persen). Sedang peneterasi di daerah penyangga sejumlah kota besar itu masih terhitung sangat kecil.
Lihat daerah Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek) yang dianggap sebagai wilayah penyangga kota Jakarta. Hanya sekitar 1 dari 10 konsumen yang disurvei mengaku memiliki tabungan. Wilayah di sekitar kota besar yang juga penetrasinya rendah adalah Sleman-Bantul. Cuma sekitar 24 persen. Wilayah di sekitar Semarang 15 persen, wilayah di sekitar Surabaya 12 persen, dan wilayah sekitar Bandung cuma sekitar 9 persen.
Menurut Dena, rendahnya tingkat penetrasi di daerah-daerah penyangga itu ketimbang kota, lantaran dua hal yaitu pendidikan dan pekerjaan. Tingkat pendidikan dan pekerjaan orang-orang kota itu jauh lebih baik. Pendapatan mereka juga jauh lebih baik, sehingga penetrasi bank lebih mudah.
Fungsi bank bagi orang-orang kota itu sangat beragam. Sebagai medium untuk menerima gaji bulanan. Tempat menabung sebagai bekal di saat susah atau masa tua. "Konsumen di kota besar mengandalkan bank untuk membantu dalam mengamankan uang mereka," kata Dena.
Analis finansial Lin Che Wei menjelaskan sebab lain dari rendahnya penetrasi itu. Cabang bank di Indonesia, katanya, sangat kurang. Sejumlah bank hanya memiliki kantor pusat dan beberapa kantor cabang di kota besar saja. Padahal wilayah Indonesia ini sangat luas.
Indonesia, kata founder lembaga analisis dan publikasi data bisnis Indonesia Katadata ini, sebenarnya tidak kekurangan bank. Sayangnya jumlah kantor kasnya tidak merata, sehingga akses masyarakat terhadap bank sangat minim. Akibatnya, jumlah orang yang memiliki rekening pun tidak banyak. "Jadi yang harus diperbanyak adalah jumlah cabangnya," kata Che Wei dalam perbincangan dengan VIVAnews, Selasa 22 Mei.
Lokal lebih baik
Selain melihat tingkat penetrasi, survei Nielsen itu juga melihat layanan ritel setiap bank. Dari survei itu diketahui bahwa dalam hal layanan ritel itu, bank-bank lokal jauh lebih baik dari bank asing. Dalam hal transaksi sehari-hari, para konsumen menilai bahwa bank asing belum sebaik bank lokal.
Mengapa lokal lebih baik. Bank-bank lokal, kata Dena, jauh lebih baik dari sisi lokasi. Bank lokal lebih unggul untuk menjawab kebutuhan masyarakat, seperti cek saldo, membayar kartu kredit, hingga membayar tagihan listrik. Namun, survei yang dilakukan Nielsen tidak menyangkut kebutuhan investasi. "Data ini murni untuk retail banking," kata Dena.
Dari sisi citra perbankan, bank BUMN dinilai berlomba-lomba untuk meningkatkan citra mereka di mata masyarakat. Beberapa bank BUMN seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) ingin menunjukkan citra ke masyarakat bahwa mereka adalah bank pemerintah. Hal ini, kata Dena, agak berbeda dengan PT Bank Mandiri Tbk, yang dinilai justru berusaha memisahkan diri dari citra bank pemerintah, dan menjadi bank jangkar.
Dampak asing
Dalam survei yang dilakukan KataData, dominasi asing di perbankan Indonesia dinilai akan membawa dampak negatif bagi perkembangan Indonesia. Alasannya, bank milik asing semakin condong ke segmen kredit konsumsi. Che Wei menjelaskan bahwa porsi kredit konsumer bank asing lebih besar dibanding bank pelat merah.
Ia mencontohkan, bank swasta milik asing seperti PT Bank Danamon Tbk memiliki porsi kredit konsumer sebesar 48 persen, PT Bank CIMB Niaga Tbk (30 persen), dan PT Bank Internasional Indonesia Tbk (35 persen). Sementara itu, bank milik negara seperti PT Bank Mandiri Tbk hanya memiliki porsi kredit konsumer sebesar 15 persen, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (21 persen).
Dengan kondisi seperti ini, ia memperkirakan, dalam 5-10 tahun ke depan, pangsa pasar bank BUMN dan swasta yang dimiliki lokal akan terus menyusut. "Jika ini terus dibiarkan, bila terjadi krisis, dominasi kepemilikan asing berpotensi meningkatkan risiko pelarian modal," ujarnya.
Untuk itu, pemerintah bersama regulator harus melakukan beberapa langkah di antaranya melakukan pengaturan segmen pasar. Misalnya, bank milik asing tidak diperkenankan menggarap bisnis mikro, didorong ke segmen bisnis wholesale dan infrastruktur yang selama ini kurang diminati.
"Kita perlu penerapan multy license kepada bank asing. Kita ini bukan anti asing, tapi harus menempatkan asing sesuai dengan porsinya," ujarnya.
Tak hanya itu, pemerintah dan regulator seharusnya menambah modal perbankan. Caranya, dividen bank BUMN seharusnya digunakan untuk menambah modal, dan tidak disumbangkan ke negara.
-
10 Gol Tercipta di Laga Perpisahan Ferguson
-
Belasan RS Mundur dari Program KJS Andalan Jokowi. Ada Apa?
-
Manchester City Perpanjang Daftar "Invasi" Klub Eropa ke Indonesia
-
Chelsea Segel Posisi Ketiga Klasemen Akhir
-
Spurs Tetap Gagal ke UCL Meski Sukses Tekuk Sunderland
-
ManCity Tutup Musim dengan Kekalahan
- Info Momentum
- Misteri Persamaan Kasus Pembunuhan Mary Ashford dan Barbara Forrest
- Corpse Candle, Menguak Misteri Lilin Kematian
- Misteri Dimensi Pararel di Segitiga Bennington
- Kebetulan yang Menakjubkan dalam Kematian
- 5 Pasangan Ayah dan Anak Menjadi Presiden
- Join [Game] Team A vs Team B
- FOTO Kegiatan Harian Pesumo di Jepang



