FOKUS

FDR Sukhoi Tidak Ditemukan, Apa Implikasinya?

Tim SAR bekerja keras. Semua korban sudah ditemukan. Tapi FDR belum ditemukan.

ddd
Senin, 21 Mei 2012, 20:38 Elin Yunita Kristanti, Oscar Ferri, Ayatullah Humaeni (Bogor)
Pesawat Sukhoi Super Jet 100 lepas landas di Halim
Pesawat Sukhoi Super Jet 100 lepas landas di Halim (REUTERS/sergeydolya.livejournal.com/Handout)

VIVAnews – Evakuasi korban Sukhoi sudah berakhir. Pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan tim khusus yang dikirim dari Rusia sudah ditarik pulang. Berakhirnya misi pencarian korban dan serpihan pesawat itu berlaku efektif 21 Mei 2012. Hari ke-12 sesudah pesawat itu menghantam tebing Gunung Salak Rabu 9 Mei 2012.

Hingga misi ini berakhir, Flight Data Recorder (FDR) tidak kunjung ditemukan. Setidaknya begitu penjelasan Tim SAR. Padahal tim sudah bekerja sangat keras. Radius satu kilometer dari dinding maut Gunung Salak itu sudah disisir habis. Beberapa hari belakangan, tim pencarian memang fokus mencari FDR itu. “Jadi operasi pencarian FDR ini dinyatakan ditutup,” kata Kepala Basarnas, Marsekal Madya Daryatmo, di Pasir Pogor, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Senin 21 Mei 2012. Semua tim ditarik dari gunung itu.

Operasi berhenti tanpa menemukan FDR kemudian menimbulkan sak wasangka. Ada yang menduga bahwa alat itu sudah ditangan tim Rusia. Alat FDR itu merupakan bagian dari black box, yang diharapkan bisa mengungkap sebab musabab kecelakaan maut ini. Spekulasi berkembang bahwa Rusia, yang sedang membangun industri penerbangan sipil, sangat berkepentingan dengan alat itu.

Tapi dugaan  itu sudah dibantah keras Basarnas. Tim Rusia memang terjun juga ke Gunung Salak. Tapi, "Mereka juga tidak menemukan FDR itu," kata Direktur Operasional Basarnas, Sunarbowo kepada VIVAnews, Senin  21 Mei 2012.

Tim Rusia tidak mungkin menyembunyikan alat itu. Sebab, kata Sunarbowo, tim yang datang dengan pesawat khusus itu bekerja di bawah pengawasan tim khusus Indonesia. "Kalau mau bergerak mereka minta bantuan kita," tutur Sunarbowo. Basarnas meminta publik agar tidak menaruh curiga dengan tim Rusia. "Itu dugaan yang berlebihan. Karena setiap apa yang mereka kerjakan, selalu kami kawal."

Operasi pencarian FDR ini dihentikan, kata Sunarbowo, karena tugas Basarnas telah selesai. Basarnas, tambahnya, hanya bertugas mengevakuasi para korban Sukhoi. Sementara, FDR menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Itu sebabnya, meski operasi dihentikan, Basarnas tetap mempersilakan KNKT mendaki Gunung Salak itu, untuk mencari FDR yang diperlukan untuk proses penyelidikan penyebab jatuhnya pesawat. "Mungkin nanti akan dibantu oleh polisi atau aparat setempat," kata Sunarbowo.

Meski tidak menemukan FDR itu, tim pencari sesungguhnya sudah bekerja keras. Semua jenazah sudah dievakuasi. Sudah pula diidentifikasi. Bahkan lebih cepat dari yang direncanakan. Kerja keras yang patut dipuji.

Selain evakuasi para korban itu, tim SAR menemukan serpihan-serpihan lain dari pesawat nahas bikinan Rusia itu. Mereka juga sudah menemukan Emergency Locater Transmitter (ELT), sejumlah dokumen, dan sebuah parasut yang masih terikat dengan kencang.

Komandan Resimen Militer (Danrem) Surya Kencana 061, Bogor, Kolonel Infantri AM Putranto memastikan bahwa parasut itu sama sekali tidak dipakai. "Masih terikat kencang. Jadi sama sekali belum digunakan,”katanya.

Sebelumnya, soal parasut itu memang menerbitkan banyak pertanyaan, yang bisa berujung pada sak wasangka pula. Ada yang menduga bahwa si pilot—yang lama menerbangkan pesawat tempur Sukhoi itu – sempat melompat sebelum pesawat menghantam dinding gunung.

Dugaan itu dibantah keras. Sebab itu pesawat sipil. Tak punya kursi pelontar. Lagi pula tak ada jendela di samping pilot. Bagaimana dan lewat mana dia melompat keluar dari pesawat.
 

Nasib Investigasi KNKT

Berwarna jingga, alat yang disebut FDR itu tidak seberapa besar. Namun fungsinya sangat penting dalam investigasi kasus kecelakaan pesawat.
Dipasang di bagian ekor pesawat. FDR adalah perangkat elektronik yang digunakan untuk merekam setiap instruksi yang dikirim ke sistem elektronik di pesawat terbang. Merekam data-data yang terjadi di saat-saat terakhir pesawat.

Lantaran begitu penting, alat ini dirancang tahan benturan keras. Juga tahan panas. Saat sebuah kecelakaan terjadi, selain jasad korban, FDR masuk daftar alat yang harus dicari.Analisa dari data dan parameter yang direkam alat itu bisa membantu mendeteksi dan mengidentifikasi penyebab atau faktor pendukung terjadinya kecelakaan.

Lalu bagaimana nasib penyelidikan kecelakaan Sukhoi Superjet-100 tanpa si FDR itu?

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menegaskan bahwa mereka akan terus menginvestigasi penyebab jatuhnya pesawat  nahas itu. Meski tanpa FDR. “Kami akan melakukan penyelidikan dengan benda-benda yang sudah ditemukan oleh tim SAR,” kata investigator KNKT Oni Suryowibowo di Pasir Pogor, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin 21 Mei 2012.

Oni menegaskan bahwa fungsi FDR memang sangat penting untuk memadu-madankan serpihan-serpihan lain Sukhoi  yang sebelumnya telah ditemukan tim SAR seperti Emergency Locator Transmitter (ELT) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).

Posisi FDR menjadi penting, lanjut Oni, karena perangkat ini merekam ketinggian pesawat, kecepatan pesawat, dan temperatur udara pada saat pesawat melintas. Namun karena benda ini akhirnya tidak ditemukan, maka KNKT akan berjuang dengan perangkat lain yang ada.

Hantaman yang keras dan jurang curam nan dalam, memang menyulitkan tim mencari alat penting pesawat Sukhoi itu.  Kerasnya hantaman itu menyebabkan kotak hitam pesawat alias black box yang ditemukan oleh tim SAR sebelumnya dalam keadaan tidak utuh.

Tim itu hanya menemukan CVR. Meski gosong, Wakil Menteri Industri dan Perdagangan Rusia, Yuri Slyusar, memastikan rekaman kokpit di pesawat Superjet 100 masih dalam kondisi bagus. "Rekaman masih utuh, tidak diragukan," kata Yuri Slyusar seperti dikutip oleh Ria Novosti.

Rekaman percakapan di kokpit itu telah diduplikasi oleh otoritas Indonesia untuk dianalisis. Rusia sendiri mengawasi langsung proses duplikasi tersebut.

Jenazah Bisa dilihat

Tuntasnya evakuasi dan identifikasi para korban, tentu saja melegakan. Keluarga para korban bisa memakamkan saudara mereka dengan layak. Rumah Sakit Polri Kramat Jati kini sedang menyelesaikan tugas akhir. Proses penyerahan jenazah dijadwalkan Rabu 23 Mei 2012.

Sebelum peti jenazah ditutup untuk kemudian  dikebumikan, keluarga diizinkan untuk melihat jenazah orang-orang yang amat dikasihi itu. Prose situ dijadwalkan Selasa besok. Keluarga yang ingin melihat mendaftar di ante mortem. “Tentu saja dibatasi, karena bisa kacau kalau terlalu banyak anggota keluarga yang melihat," kata Direktur Eksekutif DVI, Komisaris Besar Polisi Anton Castilani di RS Polri Soekamto, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin 21 Mei 2012.

Namun, Anton menyarankan, jika ada anggota keluarga yang tidak kuat secara mental, maka sebaiknya tidak perlu melihat. Sebab, kondisi jenazah memang sangat mengenaskan. Tidak utuh.

"Mental psikologis kadang-kadang tidak nyaman untuk keluarga. Bisa membuat trauma yang berkepanjangan dan jadi ada ingatan-ingatan di masa mendatang," katanya. Meski demikian, polisi telah menyiapkan tim psikologi untuk mendampingi keluarga.

Setelah proses di RS Polri berakhir, 45 korban tragedi SSJ-100 akan dibawa ke Lanud Halim Perdanakusuma. Di sanalah jenazah akan diserahkan kepada keluarga. "Satu per satu pergeseran peti jenazah dikirim ke Halim," kata Anton.

Di Lanud Halim Perdanakusuma, Tim Mabes Polri akan menggelar prosesi penyerahan jenazah. RS Polri secara simbolis akan menyerahkan jasad korban kepada Badan SAR Nasional, Kementerian yang ditunjuk, dan keluarga korban. Dari sana mereka dimakamkan.


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
ipank60
22/05/2012
"SAK WASANGKA" ITU ARTINYA APA YA?? SAYA CARI DI KBBI KOK GA ADA ,ANEH
Balas   • Laporkan
benwae | 22/05/2012 | Laporkan
syak 1 n rasa kurang percaya (sangsi, curiga, tidak yakin, ragu-ragu): menaruh --; jangan -- lagi jangan khawatir (sangsi, ragu-ragu); tidak -- lagi yakin benar; tentu; 2 a kurang percaya, sangsi, curiga, tidak yakin, ragu-ragu; -- wasangka syak dan sangk
benwae | 22/05/2012 | Laporkan
syak 1 n rasa kurang percaya (sangsi, curiga, tidak yakin, ragu-ragu): menaruh --; jangan -- lagi jangan khawatir (sangsi, ragu-ragu); tidak -- lagi yakin benar; tentu; 2 a kurang percaya, sangsi, curiga, tidak yakin, ragu-ragu;
silverballer
22/05/2012
Gimana FDR mau ketemu... udah kita kasih koordinat yang betul ya gak dicari juga, alasannya terlalu jauh lah, jurang lah... sampai kiamat dicari juga gak akan ketemu...
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru