G-8, Zona Euro, Iran dan Korut
Pemimpin negara G-8 bertemu selama dua hari. Krisis Eropa jadi fokus.
Logo mata uang Euro di Bank Sentral Eropa (REUTERS/Alex Domanski)
VIVAnews - Delapan pimpinan negara yang tergabung dalam Group of Eight bertemu di Camp David, Maryland, Amerika Serikat. Pemimpin negara-negara yang beken dengan sebutan G-8 itu bertemu selama dua hari, 19 hingga 20 Mei 2012.
Sejumlah isu dikupas. Mulai krisis ekonomi, isu nuklir Iran dan Korea Utara, hingga kerusuhan Suriah. Namun, masalah krisis ekonomi Eropa menjadi topik paling hangat dibincangkan.
Maklum, pertemuan itu digelar saat perekonomian AS dan Eropa tengah lesu. Pada Februari, tingkat pengangguran di kelompok negara pengguna mata uang Euro (zona Euro) mencetak rekor tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Pada awal tahun ini sudah lebih dari 17 juta orang di zona Euro menganggur.
Krisis terparah dialami Yunani. Standard & Poor's menurunkan peringkat surat utang jangka panjang Yunani ke katagori 'gagal bayar selektif'. Tak hanya itu, banyak warga Yunani mulai ramai-ramai menarik simpanan mereka dari bank karena takut akan nasib ekonomi negara mereka.
Penyelamatan zona Euro
Agenda penyelamatan ekonomi jadi topik utama pertemuan yang diikuti kepala negara dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Rusia, Inggris, dan AS ini. Dalam dua hari itu, sebuah konsensus diambil, zona Euro harus diselamatkan.
"Semua pemimpin yang hadir di sini sepakat, pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja menjadi prioritas," kata Presiden AS, Barack Obama, di akhir pertemuan seperti dikutip Washington Post. "Ekonomi Eropa yang tumbuh dan stabil merupakan harapan terbaik siapa pun, termasuk Amerika."
Mengacu pada pengalaman negaranya, Obama yakin Eropa bisa lolos dari krisis yang dihadapi. Dia menekankan pentingnya penambahan stimulus fiskal untuk mengatasi krisis utang Eropa.
"Arah perdebatan saat ini harus memberi keyakinan bahwa Eropa mengambil langkah signifikan untuk mengelola krisis," ujar Obama. "Saat ini ada konsesnsus yang harus dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja dalam konteks reformasi fiskal dan struktural," tambah dia.
Boleh saja negara-negara G-8 itu menyusun formula. Tapi nasib zona Euro juga berada di tangan negara anggota lainnya. Negara pengguna Euro yang berjumlah 17 mengalami krisis dengan tingkat yang berbeda-beda. Cara penyelesaiannya pun juga berbeda.
Ancaman nyata datang dari Yunani. Negara yang relatif kecil ini dikabarkan akan keluar dari zona Euro. Yunani menganggap tidak bisa menerapkan kebijakan pemangkasan anggaran besar-besaran seperti negara besar Eropa untuk mengatasi krisis.
Yunani sulit mencapai kompromi politik. Sebab, pada pemilu parlemen yang baru lalu, partai-partai pendukung program UE dan IMF --yang sebelumnya berkuasa--mengalami penurunan suara dan tidak lagi berstatus mayoritas.
Sebaliknya, partai-partai berhaluan sosialis atau sayap kiri mengalami peningkatan jumlah suara. Namun, mereka menegaskan bahwa Yunani harus membatalkan program bailout dari UE dan IMF.
Para pemimpin G-8 mendukung Yunani tetap di zona Euro. Mereka berjanji mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memerangi krisis keuangan Eropa.
Sebuah pendekatan didorong Kanselir Jerman Angela Merkel, di mana stimulus menjadi hal penting bagi penyembuhan zona ekonomi Eropa. "Kami berkomitmen untuk mengambil semua langkah yang diperlukan guna memperkuat dan menghidupkan kembali ekonomi dan memerangi tekanan finansial," kata pemimpin G-8 dalam pernyataan bersama seperti dikutip Reuters.
Pesan yang dikirim dalam pertemuan puncak itu merefleksikan kekhawatiran bahwa apa yang terjadi di zona Euro akan mengancam masa depan 17 negara pengguna mata uang tunggal Eropa itu. Selain itu, kondisi tersebut bisa melukai pemulihan ekonomi AS yang rapuh dan pemilu pada November nanti.
Dalam komunike akhir ekonomi, pemimpin G-8 mendukung Eropa agar lebih fokus untuk menambah pertumbuhan dan mengatakan, "Kami menegaskan kembali perhatian terhadap Yunani di zona Euro, dan menghormati komitmennya."
Kekhawatiran terhadap kebuntuan politik di Yunani akan menyebabkan perhitungan biaya moneter yang tidak menentu dan memberi ketakutan stabilitas ekonomi.
Rekomendasi lain
Isu lain yang hangat dibahas pemimpin G-8 adalah suplai minyak. Iran menjadi sorotan. G-8 tetap melanjutkan sanksi untuk negeri para mullah ini karena program nuklir dan rencana menunurnkan harga minyak.
"Kami semua tetap melanjutkan pendekatan sanksi dan tekanan yang dikombinasikan dengan diskusi diplomatik," ujar Obama seperti dikutip Reuters.
"Kami berharap dapat menyelesaikan masalah ini secara damai yang menghormati kedaulatan Iran dan hak-haknya di komunitas internasional, tapi harus memahami tanggung jawab mereka," tambah Obama.
Pertemuan Camp David ini memang diselenggarakan beberapa hari menjelang pembahasan masalah Iran yang akan digelar di Bagdad, Irak. Negara-negara Barat curiga program nuklir itu dikembangkan untuk senjata. Meski Iran membantahnya.
Tak hanya Iran, mereka juga memperingatkan akan menerapkan hukuman yang lebih berat untuk Korea Utara. Manuver negara yang kini dipimpin Kim Jong-un ini dianggap selalu memprovokasi negara lain.
"Kami tetap menaruh perhatian pada aksi provokatif Korea Utara yang mengancam kestabilan regional," kata pemimpin G-8 dalam pernyataannya.
"Kami mendesak Korut menghormati kewajiban internasionalnya dan melarang semua program nuklir dan rudal balistik dilanjutkan, dan diperbanyak." (eh)
- Info Momentum
- Misteri Pembunuhan Presiden Kennedy Dengan Proyek UFO Rahasia
- Kawah Patomski, Kawah Misterius Bentukan Alien di Tengah Hutan Rusia
- "The Count" Penipu Ulung Paling Lihai di Dunia
- Hasta Brata, Misteri Ilmu Kepemimpinan Jawa
- Beredar Foto Seksi Mirip Sefty Sanustika Istri Fathanah
- Misteri Suara Denting Lonceng Di Komplek Pemakaman Menteng Pulo
- FOTO: Cantiknya Rosnita Putri Wanita Teman Dekat Arya Wiguna



