Sukhoi dan Bisnis Penerbangan Indonesia
Setidaknya sudah 3 maskapai yang masuk Indonesia. Siapa saja yang beli.
Sukhoi Superjet 100 (sukhoi.org)
VIVAnews - Dari 45 korban tewas jatuhnya pesawat Sukhoi, yang paling banyak adalah awak Sky Aviation. Empat belas orang. Mereka terdiri dari ahli teknis dan para pramugari. Sesuai dengan penjelasan pemerintah, hampir bisa dipastikan bahwa tidak ada penumpang yang selamat. Artinya semua penumpang meninggal dunia. (Baca: Daftar korban Sukhoi)
Hingga Jumat sore, 11 Mei 2012, manajemen PT Sky Aviation masih menunggu kabar terakhir dan evakuasi ke 14 awaknya itu. Sebagaimana luas diberitakan bahwa pesawat Sukhoi bikinan perusahaan Rusia itu jatuh di kawasan Gunung Salak, Jawa Barat, Rabu 9 Mei 2012. Dia menabrak tebing Gunung Salak dan hancur berantakan. Kondisi para jenazah menggenaskan.
Sky Aviation adalah salah satu perusahaan penerbangan yang sudah lama berencana membeli 12 pesawat Sukhoi Superjet 100 itu. Penandatanganan pembelian pesawat dengan Sukhoi Civil Aircraft Company (SCAC) telah dilakukan pada 16 Agustus 2011. Pesawat itu dijadwalkan tiba pada semester II-2012.
Saat penandatanganan perjanjian pembelian itu, seperti dikutip laman www.sky-aviation.co.id, Komisaris Sky Aviation, Yusuf Ardhi, mengatakan bahwa pesawat Sukhoi Superjet 100 bakal menyediakan alat transportasi udara yang nyaman bagi Indonesia. "Dengan tambahan armada baru, SKY Aviation bisa menerapkan visi "Fly in Every Sky" di Indonesia," kata Yusuf sebagaimana ditulis laman itu.
Chief Executive Officer (CEO) Sky Aviation, Krisman Tarigan menilai bahwa Sukhoi Superjet 100 adalah pilihan yang tepat bagi Sky Aviation untuk mengisi kekosongan dalam pangsa pasar transportasi udara di Indonesia. Jadi pangsa pasarnya di Indonesia cukup besar.
Lalu sesudah kecelakaan yang merengut nyawa, termasuk belasan awak Sky Aviation itu, apakah rencana pembelian itu dibatalkan atau direvisi?
Manajer Pemasaran Sky Aviation, Sutito Jainudin, kepada VIVAnews di Jakarta, Jumat 11 Mei 2012, menegaskan bahwa hingga kini manajemen belum membatalkan rencana pembelian pesawat Sukhoi tersebut. Alasannya adalah rencana pembelian pesawat itu sudah sejak lama dan itu sesuai dengan business plan perusahaan yang baik. "Pesawat itu akan dioperasikan di Indonesia dan kawasan regional," ujar Sutito.
Pada awal berdirinya, Sky Aviation adalah maskapai penerbangan yang melayani jasa penyewaan pesawat. Saat itu, Sky Aviation hanya memiliki dua unit pesawat buatan Cirrus. Dengan perubahan pengelolaan perusahaan, Sky Aviation terus mengembangkan bisnisnya, sehingga menjadi maskapai dengan jadwal penerbangan tetap.
Sky Aviation lalu menambah armada yang dimilikinya dan pada 2010 membeli sebuah pesawat jenis Cessna Grand Caravan yang melayani penerbangan dari Surabaya, Banyuwangi, dan Denpasar. Rute ini resmi beroperasi sejak 29 Desember 2010. Sepanjang kuartal I-2011, Sky Aviation juga makin mengembangkan bisnisnya dengan membeli tiga unit pesawat turbo prop, Fokker 50. Seperti Cessna, pesawat baru ini juga melayani rute penerbangan terjadwal. Perusahaan juga berencana untuk memesan pesawat jenis Sky Lander SK-105 untuk menambah variasi armadanya.
Dan perusahaan penerbangan di Indonesia yang berminat dengan Sukhoi Superjet 100 bukan hanya Sky Aviation. Maskapai Kartika Airlines juga berminat. Tak tanggung-tanggung, Kartika Airlines akan memesan 30 pesawat Sukhoi buatan Rusia itu.
Direktur Kartika Airlines, Arifin Seman, saat dihubungi VIVAnews di Jakarta, Kamis 10 Mei 2012, mengatakan bahwa maskapai Kartika Airlines belum mengurungkan niatnya untuk mendatangkan 30 pesawat Sukhoi Superjet 100 guna memperkuat armadanya. "Kami tunggu dulu hasil investigasi KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) mengenai penyebab jatuhnya pesawat, baru kami akan ambil sikap," tutur Arifin.
Arifin mengungkapkan, pesawat-pesawat tersebut rencananya didatangkan secara bertahap ke Indonesia. Tahun ini akan didatangkan dua hingga tiga pesawat. Setelah itu bertahap dan pada 2014 diharapkan seluruhnya sudah
berada di Indonesia.
Seperti halnya Sky Aviation, salah satu kru Kartika Airlines juga turut menjadi penumpang dalam pesawat nahas tersebut. "Kami juga sedang menunggu kabar mengenai kondisi Capt Aan Husandi Wiganda, yang ikut dalam pesawat itu," kata Arifin.
Tak semua berminat
Berbeda dengan Sky Aviation dan Kartika Airlines, PT Airfast Indonesia tidak berniat membeli pesawat Sukhoi Superjet 100 itu. "Perusahaan tidak berniat memesan pesawat buatan Rusia tersebut," kata salah seorang staf sekretaris perusahaan PT Airfast Indonesia, saat dihubungi VIVAnews di Jakarta, Jumat 11 Mei 2012.
Meski salah satu kru maskapai itu juga ikut dalam pesawat nahas tersebut, itu tidak berarti bahwa Airfast Indonesia berniat membeli pesawat yang mulai dibuat pada 2007 itu. "Memang kru kami ikut dalam uji coba Sukhoi itu, tapi tidak karena perusahaan berniat beli," tuturnya.
Berdasarkan data PT Trimarga Rekatama sebagai agen yang menangani Sukhoi di Indonesia, dari daftar 45 penumpang pesawat Sukhoi SuperJet 100 itu, di antara terdapat nama Gatot Purwoko dari Airfast Indonesia.
Selain karyawan Sky Aviation, Kartika Airlines, dan Airfast Indonesia, dari daftar penumpang Sukhoi tersebut, sebagai besar penumpang memang pegawai dari sejumlah maskapai penerbangan nasional. Tercatat dua penumpang berasal dari PT Indonesia Air Transport Tbk (IATA). Maskapai lain adalah Indo Asia, Avia Star, dan Air Maleo.
Direktur Utama Indonesia Air Transport, Syafril Nasution, kepada VIVAnews mengungkapkan, keputusan perusahaan mengirimkan pegawainya ikut dalam joy flight karena undangan dari perwakilan Sukhoi di Indonesia, PT Trimarga Rekatama. "Itu undangan dari Sukhoi, mereka dari perusahaan yang ada di Indonesia," katanya.
Keputusan manajemen Indonesia Air Transport mengirimkan dua pegawainya, Syafril mengungkapkan, karena perusahaan ingin mengetahui lebih jauh kinerja dari pesawat komersial dari Sukhoi tersebut. Kendati ikut dalam penerbangan, Indonesia Air Transport sama sekali belum berencana untuk membeli pesawat tersebut. "Cuma ingin tahu," ujar Syafril.
Indonesia Air Transport juga kehilangan salah satu pejabatnya, Ganis Arman Zuvianto, yang diduga menjadi korban dalam pesawat nahas tersebut. Ganis Arman adalah sekretaris perusahaan Indonesia Air Transport.
Rebut pasar Indonesia
Upaya produsen pesawat asing merambah pasar Asia, termasuk Indonesia, untuk mempromosikan pesawat tipe menengah berkapasitas 100 kursi tak lepas dari pertumbuhan bisnis di sini yang semakin meningkat.
Seperti diketahui, pesawat Sukhoi Superjet 100 merupakan pesawat jet dengan kapasitas penumpang 98 kursi, termasuk pilot. "Persaingan jet 100 seats ini tinggi sekali dan itu baru berlangsung tiga tahun terakhir," kata Komisaris Utama PT Merpati Nusantara Airlines (MNA), Said Didu, kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis 10 Mei 2012.
Setidaknya, tercatat tiga produsen pesawat yang sudah mulai masuk ke pasar Indonesia. Dari China, terdapat nama produsen pesawat Xi'an Aircraft International Coorporation (XIAC). Publik Indonesia mengenal produk pesawat dari pabrikan Negeri Tirai Bambu ini berupa MA-60 yang dipesan Merpati.
Dari benua Amerika, muncul nama Embraer S.A singkatan dari Empresa Brasileira de Aeronáutica, S.A. Di seluruh dunia, Embraer, yang merupakan produsen pesawat terbesar keempat dunia, telah menjual sedikitnya 8 pesawat eksekutif dengan harga berkisar US$9,5 juta hingga US$54 juta.
Di sektor komersial, Embraer mengambil posisi pasar yang unik, yakni memfokuskan diri pada pesawat jet ukuran menengah dengan jumlah kursi mulai dari 34 sampai 120 seats. Empat tipe jet komersial yang diproduksi berada di kelas menengah berkapasitas 120 seats.
Masih dari benua yang sama, Indonesia juga mulai menjadi sasaran pangsa pasar dari produsen pesawat asal Kanada, Bombardier Aerospace. Perusahaan ini bahkan telah menandatangani kerja sama pengadaan 18 armada pesawat jenis CRJ 1000 NextGen. Rencananya, 5 unit pesawat akan didatangkan mulai Oktober hingga Desember 2012.
Bombardier Commercial Aircraft --unit bisnis dari Bombardier Inc-- adalah produsen pesawat berkapasitas hingga 145 penumpang, dengan tingkat efektivitas operasional tertinggi di kelasnya.
Said mengatakan, gurihnya bisnis pesawat terbang jet kelas menengah ini tak terlepas dari kebutuhan maskapai penerbangan nasional terhadap armada yang memiliki tingkat efisiensi lebih besar. Selain itu, pesawat jet tipe menengah ini juga bisa menjelajahi wilayah-wilayah pelosok yang tak bisa dimasuki pesawat jet berbadan lebar.
"Pesawat tipe 100 seats ini memang mengambil jarak terbang 1 jam, tapi lebih efisien karena bisa berkali-kali bolak-balik," kata Said.
Namun, persaingan Sukhoi di bisnis pesawat jet komersial ini, menurut lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, bergantung pada hasil investigasi penyebab kecelakaan Sukhoi Superjet 100 di kawasan Gunung Salak, Bogor. "Jika ini disebabkan masalah teknis, hal itu bisa berdampak pada persepsi konsumen dan kapabilitas untuk memesan pesawat tersebut," kata Direktur Agen Rating Fitch, Tom Chruszcz, seperti dikutip laman Reuters, Jumat, 11 Mei 2012.
Kendati belum bisa memastikan seberapa besar kerugian Sukhoi, analis memperkirakan musibah tersebut dapat berdampak secara psikologis pada perjanjian yang sudah dibuat. Apalagi, produsen Sukhoi tengah menghidupkan kembali bisnis penerbangan Rusia di tengah persaingan ketat dengan Embraer dari Brasil dan Bombardier, Kanada.
Pemerintah Rusia sendiri sudah membuat target ambisius berupa penjualan pesawat senilai US$250 miliar hingga 2025. Target itu dibuat untuk mengalahkan pencapaian tertinggi yang pernah dicapai oleh industri penerbangan di era Uni Soviet kala bersaing dengan Amerika Serikat dan Eropa.
Selain Sukhoi Superjet 100, anak perusahaan Sukhoi, Irkut yang lebih dikenal dengan sebutan United Aviation Corporation, telah menggandeng China untuk mengembangkan pesawat dengan kapasitas penumpang 150 kursi berjenis MS-21. Pesawat ini digadang untuk bersaing dengan Airbus dan Boeing.
- Info Momentum
- Misteri Pembunuhan Presiden Kennedy Dengan Proyek UFO Rahasia
- Kawah Patomski, Kawah Misterius Bentukan Alien di Tengah Hutan Rusia
- "The Count" Penipu Ulung Paling Lihai di Dunia
- Hasta Brata, Misteri Ilmu Kepemimpinan Jawa
- Beredar Foto Seksi Mirip Sefty Sanustika Istri Fathanah
- Misteri Suara Denting Lonceng Di Komplek Pemakaman Menteng Pulo
- FOTO: Cantiknya Rosnita Putri Wanita Teman Dekat Arya Wiguna



