Tumbuh di Atas 6%, Ekonomi RI Masih Digdaya?
Pertumbuhan ekonomi dikoreksi ke bawah. Pemerintah optimis dapat mencapai target itu.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia. (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)
VIVAnews - Pemerintah merevisi pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 6,7 persen menjadi 6,5 persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan tahun 2012.
Kendati demikian, meski pertumbuhan ekonomi dikoreksi ke bawah, pemerintah optimistis dapat mencapai target itu.
Badan Pusat Statistik merilis, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2012 dibandingkan triwulan IV-2011, yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Bruto meningkat sebesar 1,4 persen (quartal to quartal). Sedangkan PDB Indonesia pada triwulan I-2012 dibandingkan triwulan yang sama 2011 (year on year) tumbuh sebesar 6,3 persen.
Pertumbuhan ini didukung sektor pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, keuangan, real estate, jasa perusahaan, sektor pengangkutan, dan komunikasi.
Pertumbuhan tertinggi dihasilkan sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan sebesar 20,9 persen karena adanya musim panen tanaman padi pada triwulan I-2012. Sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 10,3 persen.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan, pemerintah yakin bahwa pertumbuhan ekonomi tahun ini tetap mencapai target yang ditetapkan dalam APBN-P 2012 yaitu sebesar 6,5 persen. Meskipun pada kuartal pertama, laju pertumbuhan ekonomi turun tipis menjadi 6,3 persen.
Agus mengakui bahwa penurunan tersebut terjadi karena adanya penurunan kinerja ekspor maupun impor Indonesia pada kuartal pertama. Namun, hal tersebut masih dapat ditutupi kencangnya investasi yang akan masuk pada tahun ini.
"Jadi, itu yang membuat kami optimis pertumbuhan Indonesia tetap baik dan target 6,5 persen masih akan kita capai. Pertumbuhan investasi yang tinggi di kuartal pertama di atas sembilan persen akan meningkat dan berdampak positif ke depannya," ujarnya di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin 7 Mei 2012.
Menurutnya, pemerintah juga menyiapkan beberapa stimulus fiskal dalam APBN-P 2012 untuk mendorong jika terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi ke depan.
Selain itu, pencairan anggaran pemerintah yang akan meningkat di kuartal II, III, IV, khususnya penyerapan anggaran untuk belanja modal dan barang turut mendorong laju perekonomian tahun ini.
"Nanti, kita juga dapat persetujuan besaran penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Itu juga akan membangun pertumbuhan ekonomi, karena konsumsi masyarakat meningkat. Di kuartal I, yang tinggi kan domestik ekonominya, jadi ke depan itu masih akan mendorong di 2012," tuturnya.
Kepala Riset Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa juga menyakini bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melampaui angka enam persen pada tahun ini. Namun diperkirakan, pertumbuhan itu akan mencapai 6,3 persen atau dibawah target pemerintah dalam APBN-P 2012.
Dia memprediksi, setelah kuartal I-2012 pertumbuhan ekonomi tercatat 6,3 persen, pada periode berikutnya yakni kuartal dua dan tiga masing-masing akan melamban menjadi 6,1 persen dan 6,2 persen karena terpengaruh sentimen negatif kekhawatiran krisis ekonomi Eropa dan Amerika Serikat.
Namun, Purbaya optimistis, pada kuartal IV-2012 akan meningkat kembali menjadi 6,6 persen karena pelaku pasar mengakui bahwa ancaman krisis Eropa dan AS mereda, seiring bank sentral dan pemerintahan di negara-negara tersebut yang mengeluarkan kebijakan pro pasar seperti penyuntikan dana dan pemberian suku bunga yang rendah.
"Membaiknya pertumbuhan ekspor Indonesia yang bisa mencapai 9,8 persen pada akhir kuartal IV-2012 turut mendorong tumbuhnya ekonomi di atas enam persen," kata dia saat dihubungi VIVAnews di Jakarta, Senin.
Untuk itu, ia optimistis pertumbuhan ekonomi tetap tumbuh di atas enam persen dari kuartal ke kuartal, dan pada akhirnya mencapai 6,3 persen sampai akhir 2012.
Asia Tetap Tumbuh
Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam laporannya bertajuk Asian Development Outlook 2012 menunjukkan, rata-rata pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia masih akan meningkat meski pemulihan ekonomi Eropa masih tak menentu.
Bahkan, menurut Kepala Ekonom ADB, Changyong Rhee, dalam laporan tertulis ADB, akan kembali melesat pada 2013. "Pemicunya, dukungan konsumsi domestik yang kuat," kata dia.
ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan dari indikator produk domestik bruto (PDB) di Asia tahun ini mencapai 6,9 persen. Angka itu diprediksi kembali naik menjadi 7,3 persen pada 2013.
Laporan ADB itu menyebutkan, di antara empat wilayah di kawasan Asia, negara-negara di Asia Timur bakal memimpin pertumbuhan ekonomi pada 2012. Proyeksi pertumbuhan mencapai 7,4 persen. Angka ini turun dari 8,1 persen pada 2011.
Kendati tertinggi, pertumbuhan ekonomi di wilayah ini melemah akibat ekspor dan investasi yang melambat.
China masih akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi dari kawasan Asia Timur. Pertumbuhan ekonomi di Negeri Tirai Bambu itu diperkirakan cenderung moderat dari 8,5 persen pada 2012 menjadi 8,7 persen di 2013.
Tapi, prediksi pertumbuhan ini melemah dibandingkan posisi 2011 yang mencapai 9,2 persen.
Berada di posisi kedua adalah Asia Selatan yang akan tetap tumbuh sebesar 6,6 persen pada 2012. Pertumbuhan ekonomi di kawasan ini dipengaruhi berkurangnya permintaan barang serta pembatasan fiskal. India akan memimpin pertumbuhan ekonomi di kawasan ini dengan peningkatan 7,5 persen.
Sementara itu, Asia Tengah diprediksi mengalami perubahan aktivitas ekonomi sepanjang 2012. ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kawasan ini hanya naik 6,1 persen akibat pelemahan ekonomi Eropa dan pertumbuhan ekonomi Rusia yang berkurang.
Untuk kawasan Asia Tenggara, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan hanya sekitar 5,2 persen pada 2012 dari sebelumnya 4,6 persen di 2011. Meski
terendah dibanding kawasan Asia lainnya, negara di Asia Tenggara cukup beruntung bisa mengalami pertumbuhan ekonomi dibandingkan tahun lalu.
Posisi RI
Di tengah pertumbuhan tinggi di Asia dan ketidakpastian ekonomi global itu, Indonesia, menurut ADB, berada dalam posisi yang baik untuk tetap tumbuh dan kuat.
Laporan ADB itu meramalkan ekonomi Indonesia akan tumbuh 6,4 persen pada 2012 di tengah melemahnya permintaan eksternal. Namun, situasi itu akan kembali meningkat pada 2013 seiring dengan pulihnya perdagangan dan membaiknya iklim investasi.
"Meskipun perekonomian global lemah, momentum pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara terus berlangsung," kata Kepala Perwakilan ADB di Indonesia, Jon D Lindborg.
Secara umum, ekonomi Indonesia akan menyesuaikan ke arah pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Pemerintah Indonesia akan menaikkan investasi publik dalam bidang infrastruktur.
Selain itu, pemerintah akan mengurangi hambatan pembangunan seperti lemahnya pelaksanaan anggaran untuk belanja modal, dan mengurangi kesenjangan pembangunan antara Indonesia bagian Timur dan Barat.
Pelemahan ekonomi global akan mendorong pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek. Selain itu, pemerintah akan meningkatkan potensi ekonomi dalam jangka menengah.
"Kurangnya pembangunan infrastruktur terutama di sektor energi dan transportasi dapat menjadi penghambat utama pertumbuhan ekonomi," ujarnya. (eh)
- Info Momentum
- Misteri Pembunuhan Presiden Kennedy Dengan Proyek UFO Rahasia
- Kawah Patomski, Kawah Misterius Bentukan Alien di Tengah Hutan Rusia
- "The Count" Penipu Ulung Paling Lihai di Dunia
- Hasta Brata, Misteri Ilmu Kepemimpinan Jawa
- Beredar Foto Seksi Mirip Sefty Sanustika Istri Fathanah
- Misteri Suara Denting Lonceng Di Komplek Pemakaman Menteng Pulo
- FOTO: Cantiknya Rosnita Putri Wanita Teman Dekat Arya Wiguna



