FOKUS

Dunia di Ambang Krisis Pangan

Pemerintah pasang target akan mengamankan stok pangan di angka dua juta ton.

ddd
Rabu, 16 Februari 2011, 21:19 Hadi Suprapto
Aktiitas di gudang Bulog
Aktiitas di gudang Bulog (Arief Priyono)

VIVAnews - Sejumlah ekonom memperingatkan, setelah dihantam resesi keuangan, dunia kini harus waspada terhadap ancaman baru. Itu adalah kenaikan harga bahan pangan yang telah memantik krisis politik di sejumlah negara.

Ekonom Amerika Serikat, Nouriel Roubini, seperti dikutip CNN, beberapa waktu lalu mengatakan meroketnya harga komoditas pangan bisa menjadi sumber ketidakstabilan, tidak hanya di sektor ekonomi dan keuangan, namun juga politik.

Contohnya sudah jelas. "Apa yang telah terjadi di Tunisia dan Mesir, serta yang tengah terjadi di Maroko, Aljazair, dan Pakistan, tidak saja terkait dengan tingkat pengangguran yang tinggi dan ketimpangan pendapatan dan distribusi kemakmuran, namun juga akibat kenaikan tajam harga pangan," Roubini mewanti-wanti.

Badan PBB untuk Urusan Pangan dan Pertanian (FAO) merilis indeks harga pangan dunia per Januari lalu naik 3,4 persen menjadi 231 poin. Itu merupakan angka tertinggi sejak 1990, saat FAO mulai memantau harga pangan dunia.

Naiknya indeks itu terjadi akibat melonjaknya harga sejumlah komoditas pangan, seperti sereal atau padi-padian, gula, dan minyak sayur. Indeks FAO mengukur perubahan harga sejumlah komoditas pangan internasional setiap bulan. Survei itu menjadi barometer bagi para analis dan investor sebagai patokan global tren harga pangan dunia.

Seperti diwartakan harian The Wall Street Journal, kenaikan harga pangan ini salah satunya disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu. Kondisi ini mengganggu siklus panen di banyak negara. Hujan lebat di sebagian Australia dalam beberapa pekan terakhir, contohnya, telah menghancurkan ladang gandum. Hasil panen gandum pun menjadi tidak maksimal.  

FAO mengeluarkan data faktor-faktor penyebab naiknya harga pangan dalam tujuh bulan berturut-turut. Empat faktor itu adalah cuaca, tingginya permintaan, berkurangnya hasil panen, dan beralihfungsinya lahan tanaman pangan dari tadinya untuk sumber makanan manusia menjadi bahan bioenergi.

Menurut ekonom FAO, Abdolreza Abbassian, kondisi itu telah melonjakkan tingkat permintaan dan harga gandum. Di AS, kualitas panen kedelai pada musim gugur tergolong rendah. Bersamaan dengan itu permintaan kedelai terus bertambah, sehingga persediaan di gudang-gudang menipis dan ini otomatis mempengaruhi harga.

Selain kedelai, harga sejumlah komoditas di AS, seperti jagung, juga terpengaruh. Menurut Abbassian, indeks harga gula kini naik mencapai rekor tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Harga komoditas padi-padian juga naik, namun masih di bawah level April 2008.

Minyak goreng dan lemak juga naik, mendekati level 2008. Sedangkan harga produk susu juga melonjak, meski masih di bawah rekor 2007.   

Peringatan mahalnya harga pangan juga datang dari Bank Dunia. Bahkan,The Bank mengungkapkan bahwa harga pangan di mancanegara kini berada dalam "level berbahaya."

Laporan Bank Dunia yang dimuat dalam jurnal edisi terbaru, Food Price Watch, selama Oktober 2010 hingga Januari 211 menyatakan harga pangan di tingkat global naik 15 persen. Tingginya harga pangan ini membuat sekitar 44 juta orang miskin di penjuru dunia kian melarat sejak Juni 2010.

Inflasi harga kebutuhan pokok itu terasa berat bagi kaum miskin. Mereka selama ini harus menyisihkan lebih dari setengah pendapatan mereka untuk membeli makanan.

Maka, Bank Dunia menyerukan agar para pejabat keuangan negara-negara G20--di mana Indonesia termasuk di dalamnya--untuk membahas masalah ini saat mereka bertemu pekan ini di Perancis. 

"Harga pangan dunia tengah naik menuju tingkat yang berbahaya dan mengancam puluhan juta kaum miskin di penjuru dunia," kata Presiden Bank Dunia, Robert Zoellick, seperti dikutip stasiun berita BBC.

Dia juga menilai bahwa tingginya harga pangan turut berkontribusi pada ketidakstabilan politik di Timur Tengah--meski menurutnya itu bukan merupakan penyebab utama. 

Sebelumnya, pesatnya inflasi harga pangan pada 2008 telah memicu sejumlah kerusuhan di beberapa negara. Saat itu, Bank Dunia sudah memperkirakan bahwa 125 juta orang berada dalam kemiskinan ekstrem.

Rekam jejak

Harga komoditas jagung, gandum, dan kedelai melonjak ke harga tertinggi sejak 2008. Seperti dikutip Businessweek, Departemen Pertanian AS menurunkan proyeksi persediaan komoditas sebelum panen dilaksanakan. Stok bahan makanan diperkirakan merosot 2,2 persen.

Kekeringan di Rusia, Ukraina, dan bagian lain Eropa, serta cuaca buruk di AS, Kanada, dan Australia memangkas harapan pulihnya ekonomi dunia dari resesi paling parah dalam 70 tahun terakhir.

Harga jagung telah melonjak 95 persen sejak tahun lalu. Gandum naik 84 persen dan kedelai 57 persen. Sementara itu, pada perdagangan 9 Februari,  harga beras di bursa berjangka AS mencapai level tertinggi dalam 27 bulan terakhir.

Jagung di bursa berjangka Chicago Board of Trade untuk pengiriman Maret naik 24,25 sen atau 3,6 persen, dan ditutup US$6,98 per bushel (1 bushel jagung setara 25 kg)  pada pekan lalu.

Gandum di bursa berjangka untuk pengiriman Maret naik 11,75 sen, atau 1,3 persen, menjadi US$8,86 per bushel (1 bushel gandum dan kedelai setara 27 kg). Sebelumnya, harga sempat mencapai US$8,93, tertinggi sejak Agustus 2008.

Kedelai berjangka untuk pengiriman Maret naik 16,75 sen atau 1,2 persen menjadi US$14,51 per bushel. Sebelumnya, harga sempat mencapai US$14,56, tertinggi sejak Juli 2008.

Beras berjangka untuk pengiriman Maret naik 38 sen, atau 2,4 persen menjadi US$16,29 per 100 pounds (45 kg). Sebelumnya, komoditas tersebut mencapai US$16,33, tertinggi sejak 5 November 2008. Harga ini telah naik 68 persen sejak akhir Juni.

Sementara itu, rekor tertinggi untuk komoditas jagung terjadi pada 27 Juni 2008 yaitu US$7,99 per bushel, kedelai pada 3 Juli 2008 sebesar US$16,38 per bushel, gandum pada 27 Februari 2008 sebesar US$13,49 per bushel, dan untuk beras terjadi pada 24 April 2008 sebesar US$25,07 per 100 pounds.

Tahu tempe hilang

Tak ingin bermasalah dengan pangan, pemerintah mulai berancang-ancang mengikuti langkah sejumlah negara menaikkan cadangan beras. Pemerintah pasang target akan mengamankan stok di angka dua juta ton.

"Secara bertahap, sesuai dengan kemampuan keuangan, kami akan terus meningkatkan stok pangan." kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, pekan lalu.

Entah kapan stok dua juta ton bisa bisa terwujud. Saat ini stok pangan nasional baru mencapai 1,5 juta ton. Yang jelas, Hatta telah meminta Perum Bulog membeli beras sebanyak-banyaknya dari petani.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengimbau masyarakat tidak perlu cemas dengan lonjakan harga pangan dunia. Menurutnya, pada Desember lalu pemerintah telah mendapatkan kontrak impor beras sebanyak 900 ribu ton. Beras-beras ini akan datang akhir Februari nanti. "Kami telah mendapat kontrak seharga US$450 per ton," kata dia.

Selain itu, Bayu melanjutkan, mulai pertengahan Januari petani Grobogan, Jawa Tengah, juga sudah mulai panen. Panen akan terus berlangsung hingga puncaknya pada Maret-April 2011. "Tidak akan mudah, tapi mudah-mudahan situasinya tidak akan terlalu buruk," ujar dia.

Masalahnya, yang jadi soal bukan cuma beras. Naiknya harga kedelai juga membuat pemerintah pusing tujuh keliling. Tahu dan tempe--makanan berprotein paling murah--tiba-tiba raib dari pasaran.

Dari pantauan VIVAnews.com di Pasar Kramatjati, Jakarta Timur, tempe dan tahu sempat hilang pada 2 dan 3 Februari lalu. Penyebabnya, tak lain karena harga kedelai melonjak tinggi, sementara harga jual produk tak bisa naik begitu saja. Buntutnya, produsen memilih mogok kerja.

Salah satu pedagang tempe, Taruna, mengatakan harga tempe sampai saat ini masih normal, berkisar Rp2.000-3.000 per potong tergantung ukuran. Taruna yang juga pembuat tempe mengatakan ia tak bisa menaikkan harga karena pembelinya terbatas. Terpaksalah, margin keuntungannya diperkecil.

"Saat ini harga kedelai sudah Rp9.000-10.000 per kilogram, sebelumnya hanya Rp5.500-5.700," kata Taruna kepada VIVAnews.com.

***

Dengan kondisi itu, sulit rasanya mengikuti imbauan Wakil Menteri Pertanian supaya tak cemas.

Kenaikan harga bahan pangan tetap menjadi momok bagi tingkat inflasi Januari 2011 seperti bulan-bulan sebelumnya. Beras dan cabai rawit masih menyumbang inflasi masing-masing 0,11 persen. Komoditas lain yang ikut menjadi penyumbang terbesar inflasi pada Januari adalah ikan segar sebesar 0,09 persen, cabai merah (0,07 persen), bawang merah (0,07 persen), minyak goreng (0,05 persen), dan rekreasi (0,03 persen).

Badan Pusat Statistik mencatat laju inflasi Januari tahun ini sebesar 0,89 persen. Inflasi tahunan (year on year) mencapai 7,02 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi year on year Desember sebesar 6,96 persen. (kd)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com